Trip With Sari Musdar

Trip With Sari Musdar
Spring Euro Trip With Sari Musdar

2014/01/26

Ajari Aku Untuk Bisa Mencintaimu (Amole, Letter From Field Of Gold)

















Sama seperti malam-malam sebelumnya, selesai makan malam di Messhall aku menyusuri jalan menuju Barakku. Sebenarnya ada bis dari Shopping Family menuju Barak, tetapi aku lebih senang menikmati malam di Amolepura dengan berjalan kaki dan membiarkan kabut dingin membelai kedua pipiku.

Suatu saat nanti aku pasti akan merindukan semua ini. Berjalan pelan menikmati kesunyian Amolepura. Bangunan Modern di tengah kepungan gunung-gunung batu kaya mineral. Inilah “me time” terbaik. Hanya ada aku, jalan sepi, kabut, rintik hujan, gunung-gunung yang seolah menjagaku, uap udara dingin yang keluar saat aku menghela nafas, serta bau wangi Bunga Datura yang tumbuh di pinggir jalan.

Semuanya ini nanti akan menjadi kenangan, hanya masalah waktu. Ini romantisme yang hanya bisa kunikmati sendiri bersama alunan lagu “Ajari aku” dari Adrian Martadinata. Di depan sana aku melihat sosok yang kukenal, masih mengenakan baju kerja overall , helmet, savox di pinggang dan sepatu safety boot selutut. Tanpa ragu aku memanggil.

“Finn!”

Dia menoleh, berhenti sebentar dan membiarkan aku menyusul. Pandangannya serius lurus ke depan, mungkin masih memikirkan pekerjaan, terutama beberapa hari ini dia ikut menjadi tim investigasi peristiwa longsor di Mile 73. Aku basa-basi bertanya tentang peristiwa longsor yang menyebabkan salah 1 kolega tewas. Tapi sepertinya pertanyaan ini malah memperkeruh wajahnya.

“Hey, hari ini kan ada pertandingan volley di Sport Hall, Underground melawan Concentrating. Mau nonton? Besok kamu ngga kerja kan Sabtu?”

No thanks Raisa, I must finish my work at home

Wajahnya demikian lelah dan aku ingin melingkupinya dengan cinta. Tapi tentunya tidak kunyatakan kalimat ini.

Have you ever heard work life balance Finn? Definitely you need that!” aku tertawa mengejeknya. Rasanya cuma aku orang di kantor yang berani mengkritiknya. Dia melirikku dan tertawa. Tawa yang sama saat dia menggodaku di lorong-lorong Toko Hero saat pertama kami berkenalan.  Selesai makan siang bersama, dia mendapatiku sedang memenuhi keranjang dengan coklat, kacang, chip kentang, dan permen.

"Healthy food you said? I saw many rubbish here in your basket. You just like me, junk food lover!" Dia puas menertawakan aku.


When I have my Rotational Leave, I have Raisa, don’t worry” Kini wajahnya mulai tersenyum. Lihatlah, aku selalu berhasil membuat dia tersenyum.

‘Twix?” aku menyodorkan 2 bungkus coklat.

Dia tertawa terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Junk food lover! You just like me Raisa"

Aku tidak bisa menahan tawa tapi dalam hati menepuk dada, hanya aku yang berhasil membuat dia tersenyum dan tertawa.

"Coklat bagus untuk kesehatan dan kebahagiaan Finn, look at me"

Kami kemudian melanjutkan langkah dengan pembicaraan ringan di tengah titik-titik air gerimis Amolepura yang mulai membasahi satu persatu wajahku. Malam ini semuanya terasa manis, entah karena coklat twix atau karena dia berjalan di sampingku dalam malam dingin AMolepura. Biarlah seperti ini, suatu saat ini akan menjadi kenangan.

2 comments:

  1. Aku suka tulisannya, Mbak. Apakah ini hanya cerita singkat atau sudah jadi buku?

    ReplyDelete
  2. @juliana trims ya sdh mampir. Ini bagian dari novel amole http://amolethenovel.blogspot.com mhn doanya biar cepat selesai

    ReplyDelete

Any comments, share your experience or ask?