Trip With Sari Musdar

Trip With Sari Musdar
Spring Euro Trip With Sari Musdar

Facebook Badge

2012/10/07

Hoegeng, Polisi paling Jujur, dimata anak seorang mantan ajudannya

Jumat tengah malam lalu ada banyak ribuan orang Indonesia yang masih melek dan ramai berkicau di twitterland hingga pukul 2 pagi. Biasanya hanya siaran langsung sepak bola yang berhasil membuat banyak orang bangun tengah malam. Rupanya ada 2 televisi saluran berita (TV One dan Metro TV) yang menyajikan drama menarik antara KPK dan Kepolisian, dan saya termasuk salah satu korban yang akhirnya bangun jam 1 dini hari untuk menyalakan TV.

Drama ini jauh lebih menarik daripada film-film konspirasi yang pernah saya tonton, dan melihat reportase demi reportase terutama menyimak konferensi pers yang diadakan POLRI di kantor KPK (dan berbarengan dengan konperensi pers KPK), apalagi melihat kegagapan DS menghapal skenario yang membuat dia kelihatan kurang cerdas sebagai polisi, membuat saya semakin semangat untuk melek sekaligus malu, bagaimana 2 kesatuan yang harusnya bertugas menegakkan hukum harus saling "berkelahi" dan disemangati oleh suporter masing-masing. Tontonan di TV itu mengingatkan saya akan film "A few good man" yang dimainkan dengan sangat bagus, terutama adegan interogasi di Pengadilan Militer antara Tom Cruise dan Jack Nicholson, saya bisa merasakan bagaimana semangatnya Jack Nicholson sebagai marinir yang ingin melindungi kesatuannya dengan cara yang salah.

Semua ini membawa ingatan saya pada cerita -cerita (alm) Bapak saya tentang mantan KAPOLRI Hoegeng Imam Santoso, salah satu polisi jujur, disiplin dan profesional yang pernah menjabat posisi KAPOLRI di tahun 1968 hingga 1971. Bapak saya memang pernah menjadi ajudan Pak Hoegeng saat Pak Hoegeng menjabat sebagai KAPOLRI. 

Waktu kami kecil, kami harus berangkat jam 5.30 dari rumah di daerah Ciputat naik mobil kijang butut untuk bisa sampai ke sekolah kami di daerah Kebayoran Baru tepat waktu. Di akhir-akhir pelayanannya, mobil kijang putih ini beberapa kali mogok di saat yang kurang tepat, saat kami sudah telat berangkat dan jalanan macet, kalau sudah begitu kami akan mengeluh kenapa Bapak cuma bisa beli mobil kijang seperti ini yang ditanggapi Bapak dengan ceramah panjang lebar tentang mantan atasan beliau, Pak Hoegeng. Saat itu saya selalu mengabaikan cerita Bapak, bosan dengan cerita yang diulang berkali-kali, apalagi saya tidak kenal sang tokoh heroik dalam cerita bapak (saya belum lahir saat bapak menjadi ajudannya) dan saya belum mengerti arti hebatnya polisi jujur, mungkin anak jaman sekarang akan bilang, "Terus gue harus bilang wow gitu?"

Pak Hoegeng adalah mantan jendral kapolri yang paling "miskin" karena mempertahankan kejujurannya. Bapak sering cerita, beberapa kali cukong mengirim "hadiah" ke rumah Pak Hoegeng, tapi hadiah-hadiah tersebut dikembalikan ke pengirim. Pernah suatu waktu cukong yang lihai (berharap Hoegeng akan menerima hadiah motor tersebut untuk menyenangkan putranya) mengirim sepeda motor untuk anak laki-lakinya, yang kebetulan memang sangat ingin mempunyai motor, tetapi Pak Hoegeng minta kepada bapak saya sebagai ajudannya untuk mengembalikan hadiah tersebut.


Tapi melihat apa yang terjadi saat ini, semakin dewasa saya semakin sadar, betapa negara ini makin rusak dan terpuruk karena korupsi merajarela dan semudah menghela nafas, bahkan kadang-kadang merasa korupsi bukan dosa. Apa yang bisa diharapkan jika punggawa hukum bisa dibeli?

Dari buku biografi Pak Hoegeng, saya bisa kutipkan 2 kasus yang cukup menggemparkan pada masa jabatan beliau.

Pertama  kasus "Sum Kuning", yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yg diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta.  Di luar logika nalar, justru korban perkosaan dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng bertindak, "Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better".

Kedua kasus penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah Jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak dan Kejaksaan Jakarta Raya pun memetieskan kasus ini. Siapakah si penjamin itu? Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan. Rumor yg santer, karena berani membongkar kasus ini pula yang menyebabkan Hoegeng dipensiunkan di tengah -tengah masa jabatannya, 2 Oktober 1971 dari jabatan KAPOLRI. Kasus ini ternyata melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI. Kabarnya saat itu Hoegeng sedang "membersihkan" jajaran kepolisian tetapi dipensiunkan oleh Presiden Suharto dan ditawarkan posisi Duta Besar Belgia yang kemudian ditolak oleh Hoegeng karena Hoegeng yang profesional merasa tidak kompeten sebagai Duta Besar. 


Saat pensiun, Hoegeng mengembalikan semua fasilitas yang diberikan saat dia menjabat posisi KAPOLRI. Hoegeng boleh jadi mantan jendral Kapolri termiskin, sementara mantan jendral yang lain bisa pensiun di rumah mewah yang dihiasi mobil-mobil mewah di garasi, tetapi lihatlah, hingga saat ini beliau mempunyai nama yang harum, dikagumi dan dihormati. 

Sosok beliau juga pernah dimuat di Kick Andy dan mantan Presiden Gus Dur mempunyai  anekdot yang terkenal, "Di Indonesia polisi yang jujur cuma 3, polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng". 
 


























3 comments:

  1. subhanallah... semoga pak Hoegeng masih bisa menginspirasi juniornya. Aamiin. thanks mba.. aku jadi pengen cari buku biografinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, baca aja mbak/ mas, pasti akan menginspirasi, shg kita ngga pesimis, masih ada rang jujur di negara ini

      Delete

Any comments, share your experience or ask?