Trip With Sari Musdar

Trip With Sari Musdar
Spring Euro Trip With Sari Musdar

2014/12/02

Belum dapat Cinderella in Paris? Tunggu cetakan ketiga ya :)

Sejak dua bulan lalu ada beberapa orang yang mengajak pertemanan di Facebook, dan setelah saya setujui mereka dengan sopan dan manis protes, "Mbak kok cari novelnya CIP susah banget sih, udah ke toko gramedia yang besar juga belum dapat" 





CIP dibawa melanglang buana pemilik Air Asia

Saya coba cek ke Gramedia Matraman, Gandaria, Pondok Indah Mall, Pejaten Village di Jakarta dan Gramedia Teras Kota di BSD serta Gramedia Jalan Merdeka di Bandung, satu pun sosok si pinky Cinderella in Paris ngga saya termui. Ini beneran cetak kedua CIP udah habis apa gimana ya?

Di tengah-tengah rasa penasaran, editor saya kontak, "Mbak buku CIP cuma tinggal 39, Grasindo mau cetak ulang lagi!" Wah, ngga  bisa jelasin deh bahagianya :)


Penasaran seperti apa sih trailernya? lihat di sini nih :


 

ini foto-foto kiriman pembaca : 



SINOPSIS


Cerita ini bukanlah cerita Cinderella biasa. Ini adalah sebuah kisah anak manusia yang mencoba mencari arti hidup dan kebahagiaan sesungguhnya. 

Di usianya yang menginjak 28 tahun, Saras Ratiban baru menyadar status single ternyata kurang menguntungkan di masyarakat Indonesia. Takut dicap perawan tua, Saras berusaha dengan segala cara, baikcara masuk akal yang ia pelajari dari majalah-majalah perempuan, maupun cara-cara di luar nalarnya sebagai perempuan cerdas yang biasa berpikir logis. 

Tiga tahun setelah usahanya yang gigih tetapibelum bertemu pasangan hidupnya, di puncak kejenuhan, Saras memutuskan memulai perjalanan ke Eropa bersama teman yang baru dikenalnya. Perjalanan itu benar-benar intermezzo dalam hidupnya yang menyenangkan dan penuh petualangan,sebelum temannya Ela berubah menjadi frenemy (teman tapi musuh) di gerbong kereta dalam perjalanan dari Trier menuju Luxemburg. 

Di tengah kesedihan karena dikhianati seorang yang selama setahun ini dikiranya sahabat baik, secara tidak sengaja saat berusaha menghindarkan diri dari kejaran pelukis jalanan di Montmartre (Paris),Saras melakukan tindakan nekat yang membuatnya berkenalan dengan Stephane. 

Lika-liku kisahnya bikin greget. Alurnya tidak datar. Apa yang Saras cari? Cintakah? Atau filosofi sisi lain dari apayang ia inginkan sesungguhnya?

Sekedar refreshing apa itu Cinderella in Paris, karena banyak orang mengira ini hanya novel sejenis ChickLit untuk abg (kebanyakan masuk resensi buku di majalah ABG seperti Aneka Yess yang tanggal 7 Juni merekomendasikan buku ini "cool" untuk dibaca begitu juga majalah berbahasa Inggris "HighEnd Teen", saya pengen cerita lagi nih tentang novel ini. 

Berikut bahasan yang ditulis di http://www.wisata-buku.com 
Sebuah novel yang mengesankan.
Bisa menggelorakan semangat dalam rangkaian perjalanan mengarungi hidup. Sehubungan dengan kisah yang ditulisnya terkesan realis, bisa jadi mungkin ini adalah pengalaman pribadi sang pengarang. Tapi, kalau pun tidak, pasti di antara pembaca akan merasakan irisan pengalaman yang mirip dengan yang dikisahkan Sari Musdar.

Kesedihan memang tidak melulu diratapi. Tapi mesti dimaknai dengan sesuatu yang bisa dijadikan pengalaman berharga. Tentu saja semua itu berharap akan berujung kepada kebahagiaan.

Ini adalah sebuah kisah anak manusia yang mencoba mencari arti hidup sesungguhnya. Saras Ratiban, sang tokoh utama melampiaskannya dengan melakukan petualangan panjang ke berbagai negara. Sebab, baginya dari petualangan itu ia akan menemukan kejaiban-keajaiban yang tak akan pernah diduga.

Lika-liku kisahnya bikin greget.Alurnya tidak datar. Apa yang Saras cari? Cintakah? Atau filosofi sisi lain dari apa yang ia inginkan sesungguhnya?
Simak bacaan menariknya dan rasakan sensasi dramatis kota Paris. (muluk)

Komentar Pembaca bisa dilihat di klik di sini


“Cinderella in Paris” ditulis KRN di indocampus.org

Sekitar 3 minggu yang lalu, saya menemukan sebuah novel menarik berjudul “Cinderella in Paris”. Memang terkesan seperti cerita dongeng Cinderella yang merupakan impian anak – anak perempuan terhadap pangeran tampan dan kerajaannya serta kehidupan bahagia selamanya :D Terus terang, mungkin itulah yang membuat saya membelinya, rasa ingin tahu cerita Cinderella selain versi Disney tentunya. Dan pada akhirnya, saya menemukan bahwa novel ini berbeda dengan cerita – cerita ‘Cinderella’ pada umumnya.

“Cinderella in Paris” ini menceritakan kehidupan seorang Saras Ratiban, wanita karir dengan penampilan menarik, yang mencari pasangan hidup di usia cukup matang untuk menikah bagi wanita pada umumnya. Diawali dengan kilas balik pencarian cinta di masa remaja yang tidak berjalan semulus kelihatannya, di fase usia menjelang 30 tahun ini, ia mulai berpikir serius mengenai pasangan hidupnya. Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan yang menjanjikan, ia memutuskan untuk mengunjungi salah satu kakaknya di Paris. Perjalanannya dimulai dari Amsterdam sampai ke Paris, dengan berbagai konflik persahabatan, keluarga, percintaan hingga akhirnya ia menemukan cinta sejati yang ternyata selalu menunggu di Paris. Dari suatu kebetulan dan halangan, terjadilah apa yang diungkapkan orang – orang tua kita “kalau jodoh tidak kemana”.

Ide novel ini sebenarnya sederhana, mudah dicerna dan digambarkan setiap detailnya dengan baik oleh si penulis. Berlatar belakang tempat – tempat di Amsterdam dan Paris, “Cinderella in Paris” menjadi novel romance travelling – begitu saya menyebutnya, tentu saja kategori buatan saya :D – yang dapat dijadikan referensi bacaan ringan untuk teman – teman wanita khususnya (pria pun boleh kok sebenarnya ;p). Bagi saya pribadi, novel ini cukup mewakili perasaan sekaligus menguatkan wanita – wanita yang berada dalam fase menjelang 30 tahun tersebut.

 Behind the book bisa dibaca di klik di sini

Ini bukan cerita upik abu, bukan pula cerita snow white. Penamaan Cinderella saya ambil dari istilah psikologi, “cinderella syndrome”.


Ikhlas memang mudah dikatakan lewat mulut, saat orang lain menangis karena belum bertemu jodoh, berprasangka buruk pada Tuhan, saya memilih untuk menulis novel yang semoga bisa menghibur para pejuang cinta



Di dalam masyarakat kita ada stigma, para 'perawan tua' terkenal jutek, penampilan apa adanya, sirik dengan perempuan-perempuan muda yang sudah menikah



Di dalam masyarakat kita pula ada ejekan/ tuduhan sok tahu kepada mereka yang usia 25 tahun ke atas & belum menikah 'perawan tua', 'gak laku-laku' atau "terlalu pemilih"



Jodoh memang misteri Ilahi dan setiap orang mempunyai cerita/ jalan hidup yang berbeda. Ikhlas dengan keadaan, tetap usaha dan tetap berprangka baik



Jika dalam agama diyakini, jodoh, rezeki dan mati adalah rahasia Tuhan, Darwis Tere Liye pernah menulis kepada orang-orang yang selalu bertanya "kapan menikah?" mengapa tidak ada pertanyaan 'Kapan meninggal?" Nah! kalau diyakini jodoh bagian dari rahasia Tuhan, berhentilah bertanya seperti ini. 



God's timing always right 
Tuduhan "terlalu pemilih" *padahal untuk cari pasangan (seumur) hidup tentunya harus milih-milih karena banyak juga istri yang menjadi korban KDRT/ suami biseks/ simpanan/ istri kesekian



Cinderella in Paris tadinya adalah renungan saya tentang hidup, jodoh dan kebahagiaan, juga curcol teman2-teman seumuran laki-perempuan yang jomblo/ single.



Tapi untuk novel diperlukan konflik dan drama, maka saya buat versi fiksi dari renungan hidup, curcol teman-teman dan travelogue ke eropa + aussie



Cinderella in Paris adalah ajakan untuk ikhlas menerima skenario Tuhan, CARPE DIEM/ "voir la vie en rose" nikmati hidup, buat diri bahagia dan bahagiakan orang di sekitar kita



Hidup adalah pilihan, pilihan utk 1. menerima jalan cerita yang Tuhan berikan (bahasa menterengnya IKHLAS & tawakal) dan mbuatnya jadi cerita manis


Kedua,  pilihan untuk menangis dan berteriak "WHY ME?" pada Tuhan, menikmati diri mjadi korban, seolah-olah nikmat Tuhan yg lain TAK TERLIHAT



Usaha adalah hak manusia, tentang hasil serahkan pada Yang Maha Kuasa. Tapi jangan pernah memandang kita belum sempurna / minder karena masih lajang



Saya pilih pilihan pertama, rayakan kehidupan dengan aktivitas yang saya suka, memuji Tuhan atas apa yang sudah diberikan, toh saya lahir tanpa kekurangan anggota tubuh dan semua anggota tubuh saya berfungsi dengan baik. Bukankah ini berkah yang harus disyukuri?



Cinderella in Paris juga mengajak para pencari cinta untuk tetap berusaha lahir bathin  menjemput jodoh



Doa saya semoga tidak ada lagi stigma pada para perempuan (atau laki-laki) lajang. Percayalah, kami sudah rasakan beban dengan label ini :) tapi kami berhak bahagia




Cinderella in Paris pertama terbit Mei 2010, dan krn di toko2 buku sdh stock out sejak lama, thn ini buku #CIP akan dicetak dgn sampul baru



Mei 2013 Cinderella in Paris terpilih sebagai naskah terfavorit di #PSA (Publisher Searching for author) Grasindo Publisher, diantara 600 lebih naskah yang masuk. 



Dengan sampul dan editan yang lebih menarik, nantikan CIP di Gramedia pertengahan
Juli 2013.

What they say about Cinderella in Paris (new look)



Simak ini dulu sebelum membaca Cinderella in Paris :) 
Endorsement Cinderella in Paris







What does a woman do when she has crossed the marriageable age and still looking for the right match in Indonesia? Well, ask Sari Musdar the author of Cinderella in Paris. While many women faced awkward questions as to why they are not married yet Sari Musdar made a smart decision: she packed her bag and took too a journey to Europe. And her experience inspired her to pen a travelogue that I guess turned into a novel. A novel that brought smiles to my face on an otherwise boring Sunday. Sari has presented a single woman's experience in a male dominated world with a touch of humor and not as a critic. That's the beauty of Cinderella in Paris! I wish Sari and her work a great success!



Anirudya Mitra, Co Producer MD Pictures (Habibie Ainun, Ayat-Ayat Cinta)





"Udah baca, asik banget! Kita semua dalam beberapa titik di kehidupan ini merasakan hal yg sama. So, sangat involve banget jadinya pas membaca" 



Rudi Sujarwo, sutradara film 'Ada apa dengan cinta"





 " Luwes dan jujur. Si lajang yang optimis dan 'berjuang' menghapus stigma menjengkelkan dari pergaulan sosial. Membuat emosi ikut teraduk-aduk" . Novel ringan yang menarik 



Petty S Fatimah, pemimpin redaksi Femina 





Tak gampang memahami pergulatan rasa yang dialami seorang perempuan ketika ia tiba pada usia menikah, namun belum mendapat jodoh juga. Mulai dari stigma masyarakat yang negatif, hingga keluarga sendiri yang kerap memojokkan. Belum lagi komentar, “Terlalu pemilih sih!”, seakan-akan saat naik ojek ia akan langsung lompat pada abang pertama yang lewat. Naik ojek saja pilih-pilih, apalagi suami! Sari Musdar dengan apik mengemas petualangan Sarah Ratiban berpindah-pindah benua untuk mencari dirinya dan tulang rusuk tempat ia berasal. Kita dimanjakan dengan gambaran deskriptif akan tempat-tempat indah dan bersejarah di berbagai pelosok dunia. Pola pikir sang penulis yang detail dan lucu membuat kita terhibur mengikuti perjalanan sang Cinderella mencari kekasih. Jomblo tidak berarti ngenes, perempuan tidak lemah, dunia tak selebar daun kelor. Buku ini bisa membuka cakrawala untuk mereka yang gemar traveling sekaligus memberikan suntikan semangat bagi para pencari cinta. Tetap menjadi diri sendiri, jangan khawatir apa kata orang, dan berbahagialah melakukan hal-hal yang kamu cintai, Sari menyuntikkan semangat positif untuk pembacanya.



Azza Waslati, menikah, entrepreneur digital agency, kontributor majalah & mantan penyiar radio



"Sebuah perjalanan asyik di berbagai kota di dunia, dari Jakarta dan Bandung ke Paris, Melbourne atau Amsterdam, buku ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan eksistensial: cerita tentang belajar persahabatan, kesabaran, harapan dan akhirnya penemuan cinta sejati. Buku ini membantu penemuan gaya hidup "La vie en rose". Saya sangat merekomendasikan buku ini!"



Christophe Dorigné-Thomson, penulis “Jakarta!”



"Sari Musdar bercerita dengan ringan dan fun, namun dengan muatan yang well-researched dan lengkap. Outstanding piece! This book is a page-turner, finished in one sitting!" - 



Uli Herdinansyah, MC & presenter TV 



"Ceritanya menarik! Mengangkat suka-duka cerita cinta yang sering terjadi di kehidupan nyata. Kisah-kisah yang diangkat pun unik dan lucu. Setting-an lokasinya juga bagus, disertai pemaparan informasi tentang lokasi-lokasi tersebut. cocok lah pokoknya buat mereka yang senang dengan cerita cinta di tempat-tempat yang mengagumkan. 


Chezia Pesurnay - Putri Papua 2012

Ada Mushola di Mall terlengkap Jepang


Tulisan di bawah ini saya ambil dari link Japan Travel bahasa Indonesia. Situs ini sangat menarik karena menceritakan tempat-tempat wisata di Jepang. Dan karena ditulis orang Indonesia, ada info menarik seperti restoran halal dan mushola di tempat wisata atau bandara. 

Kita juga bisa diskusi dan komentar di setiap tulisan di website JapanTravel  bahasa Indonesia ini. 
Nah mumpung sejak tanggal 1 Desember ini para pemegang paspor elektronik Indonesia bebas visa ke Jepang, mumpung USD masih setinggi langit dan ada promosi Garuda ke Jepang, ada baiknya menjadikan Jepang sebagai tujuan wisata. 

Kelebihan Jepang yang saya dengar dari teman-teman yang pernah berwisata ke sana, orang-orangnya ramah, jujur dan senang menolong, mungkin lebih baik daripada beberapa kota besar di Eropa Barat karena adanya scammer atau pencopet di Eropa.
 
By Husnul Kausarian, Chiba, December 2014
Jepang sebagai salah satu negara yang tidak didiami oleh mayoritas umat Islam, kini semakin berbenah diri mempersiapkan dirinya untuk menerima kunjungan dari turis-turis asing yang beragama Islam. Sebenarnya, di Jepang sendiri laju populasi penganut agama Islam menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya, meskipun penduduk Jepang yang beragama Islam adalah minoritas di negeri ini, namun itu tidak menyurutkan niat pemerintah maupun pihak swasta yang ada di Jepang untuk memfasilitasi penduduknya untuk melakukan aktifitas keagamaan masing-masing. Di Jepang sendiri, hak terhadap kepercayaan atau anutan agama adalah masalah pribadi setiap orang, tidak boleh dicampur adukkan dengan urusan lain. Namun begitu, Jepang mentoleransi setiap apapun agama yang dianut, termasuklah agama Islam.
Memang dari segi persentase penduduk Jepang secara keseluruhan, penduduk yang beragama Islam masih terbilang sangat sedikit, hal ini terlihat dari data statistik kependudukan masyarakat Jepang yang beragama Islam, tercatat pada tahun 2014, umat Islam yang ada di Jepang mencapai angka 200 ribuan dengan penduduk asli Jepang yang beragama Islam berjumlah 10 ribuan. Angka ini terlihat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Jepang yang mencapai hampir 130 juta orang, inilah yang membuat aktifitas dari pemeluk agama Islam di Jepang terlihat tidak signifikan. Tapi sejalan dengan perkembangan waktu, banyak dari penduduk Jepang yang mulai menganut agama Islam hingga ke saat ini.
Hal inilah yang kemudian menjadi pertimbangan pihak pemerintah maupun swasta untuk menyediakan fasilitas beribadah buat umat Islam yang ada di Jepang. Meskipun fasilitasi ini tidak dilaksanakan dan ditetapkan melalui peraturan perundang-undangan, mengingat sistem tata kelola negara dan perundang-undangannya yang tidak melibatkan agama sebagai acuan, dukungan terhadap penyediaan fasilitas ini diwujudkan dengan mengizinkan pendirian tempat-tempat beribadah umat Islam yang tersebar dan tersedia di fasilitas-fasilitas umum seperti bandara internasional Narita dan Haneda, serta tempat-tempat seperti pusat perbelanjaan atau mall dan lain-lain.
Perhatian pemerintah Jepang ini tidak hanya berdasarkan semakin ramainya penduduk Jepang yang memeluk agama Islam, Jepang kini menargetkan untuk mendatangkan ramai turis-turis mancanegara untuk mengunjungi negeri matahari terbit ini. Jepang menyadari, dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung keperluan turis-turis mancanegara agar merasa nyaman selama berada di Jepang, adalah hal yang penting dibuat agar bisa membuat turis yang datang merasa nayaman. Kita tahu bahwa Jepang sangat menjaga kepuasan akan layanan yang diberikannya, oleh karena itu, kewajiban Jepang menjaga agar para turis yang datang benar-benar benar-benar terjamin akan kenyamanan yang dirasakan.
Hal ini tak terlepas pula dengan menyediakan fasilitas beribadah, terutama buat umat Islam. Umat muslim, dalam melaksanakan ibadahnya perlu difasilitasi, terutama masalah tempat beribadah, karena umat muslim wajib melaksanakan ibadah sholat sebanyak lima kali sehari. Dengan asumsi jika turis yang beragama Islam menghabiskan waktunya sejak pagi hingga sore berkeliling menikmati negeri sakura. Pelaksanaan sholat zhuhur yang dilaksanakan di siang hari dan sholat ashar di sore hari, bisa dipastikan pelaksanaan sholat tersebut dilakukan bersamaan dengan perjalanan menikmati negeri Jepang. Hal inilah yang menjadi masukan dan pertimbangan bagi pemerintah Jepang dan pihak swasta untuk menyediakan fasilitas beribadah buat umat Islam.
Penyediaan fasilitas beribadah buat umat Islam, terutama untuk mendirikan sholat lima waktu ini dibuat berdasarkan ketentuan Islam. Dengan menerima masukan dari penduduk Jepang yang telah memeluk agama Islam dan masukan dari pendatang yang menetap di Jepang yang kebanyakannya adalah pekerja dan pelajar yang menuntut ilmu di Jepang, akhirnya kini fasilitas beribadah buat umat Islam sudah banyak tersebar. Fasilitas beribadah buat umat Islam yang ada di Jepang, sungguh memuaskan. Pihak-pihak yang mendirikan fasilitas tersebut menyediakannya dengan kondisi yang nyaris sempurna, dengan kondisi yang bersih, dilengkapi dengan perlengkapan sholat, hingga al-quran dan buku-buku agama Islam pun kadang banyak disediakan di fasilitas tempat beribadah umat Islam yang terdapat di Jepang ini.
Salah satu tempat yang menyediakan fasilitas beribadah buat umat Islam di Jepang terdapat di pusat perbelanjaan Aeon Mall Makuhari New City. Mall yang menjadi salah satu yang terbesar di Jepang ini terletak di daerah Makuhari, Chiba perfektur. Pusat perbelanjaan ini adalah kompleks mall yang sangat besar. Di mall ini terdapat 4 jenis mall yang secara khusus membagi kompleks mall tersebut. Pembagian mall yang digabung menjadi satu kompleks ini disebabkan karena luasnya mall tersebut, sehingga pertimbangan pembagian area perbelanjaan ini bisa memudahkan pelanggan untuk mencari tempat sesuai yang hendak dituju. 4 jenis area mall tersebut adalah: Grand mall yang merupakan mall utama, Pet mall yang menyediakan keperluan untuk binatang peliharaan, Family mall yang menyediakan keperluan-keperluan keluarga, rumah tangga dan anak-anak, serta bagian mall yang terakhir adalah Active mall yang menjual segala perlengkapan yang berhubungan dengan keperluan olahraga, di area ini juga tersedia gelanggang berbagai macam olahraga.
Musholla atau tempat sholat buat umat Islam tersedia di bagian Grand mall dan terletak di lantai 4, pengunjung yang ingin menunaikan ibadah sholat tidak akan kesulitan menemukan tempat ini. Ruang sholat yang tersedia buat umat muslim ini posisinya sangat strategis, petunjuk yang memudahkan pengunjung untuk menuju ke ruang sholat sangat mudah ditemui. Petunjuk yang disimbolkan dengan sebutan prayer room bisa ditemui ditempat penunjuk arah yang tersebar di dalam mall, petunjuk ini juga terdapat dalam buku informasi mall yang tersebar di sudut-sudut informasi di dalam mall ini, juga bisa dilihat di dalam lift yang menerangkan lokasi fasilitas umum di setiap lantai yang hendak kita tuju. Jika sudah berada di lantai 3, petunjuk yang mengarahkan lokasi ruang sholat berada akan sangat mudah ditemui, petunjuk ini akan diletak di tiang-tiang yang berada di dekat escalator. Namun, jika masih mengalami kesulitan bagaimana menemukan lokasi prayer room berada, silakan bertanya kepada bagian informasi yang ada di dalam mall ini, mereka akan segera menunjukkan dimana lokasi tempat melaksanakan ibadah sholat ini.
Melihat ke dalam ruangan prayer room, kita akan merasa nyaman. Di ruangan ini, diatur sedemikian rupa agar pengunjung yang hendak melaksanakan sholat bisa melaksanakan ibadahnya dengan rasa tenteram. Disini, kebersihan ruangan sholat terlihat sangat bersih, dengan tempat wudhu yang turut serta berada di dalamnya, sehingga memudahkan umat Islam yang hendak berwudhu.
Di dalam ruang sholat ini, pelaksanaan sholat untuk kaum lelaki dan wanita juga dipisah, hal ini tentunya memudahkan pelaksanaan sholat yang memang memisahkan tempat antara lelaki dan wanita. Rak sepatu tersedia di dalam ruangan sholat, juga sandal yang bisa digunakan Jemaah terdapat di dalam ruangan yang dikhususkan sebagai tempat sholat ini. Selain itu fasilitas seperti sajadah, kain sarung sebagai penutup aurat juga tak lupa disediakan di ruang sholat ini. Tak lupa penunjuk kiblat juga tersedia di ruangan sholat ini. Yang menambah rasa ketakjuban kita lagi adalah, buku-buku Islami juga terdapat di ruangan ini.
Semoga dengan semakin terbukanya negeri matahari terbit ini menyambut kedatangan turis-turis yang beragama Islam, dengan menyediakan fasilitas ibadah sholat, akan semakin menunjukkan kepada dunia luar bahwa Jepang adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Dan lihatlah Jepang, dengan segala keunikan budaya, kemajuan bangsanya dan keramahan bangsanya, menyambut kita dengan tangan terbuka.
Yuk masukkan Jepang dalam rencana traveling tahun depan.

2014/11/23

Cari Info Wisata Jepang & pengen jalan gratis intip Japan Travel --> http://id.japantravel.com

Kabar gembira untuk para traveler. 

Website http://id.japantravel.com



Sudah tahu kan per 1 Desember 2014, dengan memegang paspor elektronik, kita bisa bebas masuk ke Jepang selama 15 hari? Caranya?  Cukup dengan mendaftarkan paspor kita ke Kedutaan Jepang atau Konsulat Jendral Jepang di Indonesia (untuk kota di luar Jakarta). 

Nah sebelum traveler/ backpacker jalan-jalan ke Jepang, coba deh tengok website ini http://id.japantravel.com salah satu dari website Japan Travel yang baru diluncurkan bulan Oktober 2014 dibuat untuk memudahkan para traveler Indonesia yang ingin cari info tentang wisata Jepang per kegiatan atau pun perfektur yang ada di Jepang. 

Oia, teman-teman yang tinggal di Jepang dan yang pernah wisata ke Jepang juga bisa ikutan nulis di situ. 
Foto Jepang koleksi Riana Tjiptadi

Setiap tahunnya JapanTravel bikin acara 'internship' yang terbuka untuk penulis dan fotografer juga videografer. Untuk saat ini Japan Travel buka kesempatan teman-teman yang hobi motret dan bikin video ikut program internship. Bagaimana caranya? Silakan daftar di sini Internship Japan Travel
Tapi sebelumnya, daftar dulu dengan buat akun  di di sini jangan lupa masukkan code referral CC7B8C. 

Nah selamat mencoba ya. 

Kalau ada pertanyaan, silakan kontak saya di email ini.

Enjoy Japan :)

2014/11/22

Kebencian Tidak Akan Pernah Menggetarkan Hati

Almarhum ayah saya, lahir dan besar di keluarga non muslim,yang tentu saja tidak pernah mengajarkan ajaran islam pada ayah saya sejak lahir hingga remaja. Ayah yang merasa tidak akan maju jika tinggal di desanya memutuskan jadi ‘anak nderek’, ikut pada saudara jauh di kota lain di JawaTengah. Karena kebetulan paman jauh yang ditumpanginya ini beragama islam, ayah tahu sedikit- sedikit islam walau tidak mempraktekkannya. Tinggal menumpang dirumah orang lain, tentunya membuat ayah harus bekerja keras, bangun subuh menimba air, menemani buleknya ke pasar, masak dan lain-lain.

Hingga singkat cerita ayah bekerja di Markas Besar Kepolisian RI, pernah menjadi ajudan mantan KAPOLRI paling jujur dan profesional di Indonesia yang pernah ada, Jendral Hoegeng. Ayah bersahabat dengan pakde, kakak ibu saya, yang bekerja sebagai PNS di kantor. Karena sering bertemu dengan ibu, singkat cerita mereka menikah.

Ibu saya lahir dari keluarga yang islamnya cukup taat, banyak eyang-eyangnya Naib, salah satunya Naib Ratiban, sangat disegani di daerah Blora, orang yang bertanggung jawab memakmurkan mesjid dan terkenal sebagai Naib paling ganteng dengan wajah campuran Arab dan tinggi tegap.
Kalau dipikir-pikir latar belakang ibu dan ayah sangat berbeda, bagai langit dan bumi, terutama dari segi pendidikan agama.

Tahun berganti dan kami anak-anaknya lahir. Kami pernah bertetangga dengan keluarga yang sering mengadakan pengajian, tapi anehnya apa yang diajarkan di Islam tidak terlihat dalam kehidupannya, ayah pun sering mengkritik, “Islam cuma bagus teorinya, prakteknya nol! Katanya kebersihan nomor satu, mau sholat pun harus wudhu, tapi kenapa mereka buang sampah sembarangan bahkan di jalan orang lain?”

Kehidupan saat saya kecil sulit untuk digambarkan normal, ibu saya kucing-kucingan untuk mengajarkan kelima anaknya sholat dan memanggil guru ngaji ke rumah. Karena ayah saya sangat membenci orang-orang islam. Ayah saya tipe orang yang teori harus diterapkan dalam hidup sehari-hari, omongan harus bisa dipegang, bukan sekedar tulisan di awang-awang.

Sewaktu saya kuliah di Bandung, saya bertemu dengan teman-teman hijabers yang sangat baik memandu saya lebih kenal Islam, saya diajak ikut pengajian yang lokasinya berpindah-pindah di rumah teman-teman saya. Mereka tidak pernah memandang saya rendah karena keterbelakangan saya tentang Islam, begitu juga kakak-kakak di tempat kos, Titiran 7. Mereka merangkul saya.  Setiap kali saya melihat ayah-ayah teman pengajian saya, saya merasa iri dengan mereka, dalam hati menangis, harusnya ayah saya yang mengajarkan saya Islam, menuntun saya sholat.

Setelah saya bekerja, karena merasa punya uang sendiri, saya mulai pandai membantah dan beragumentasi dengan ayah saya. Sayangnya saya membantah dengan sangat tidak sopan. Tidak sabar dengan perilaku ayah saya yang tidak berubah, saya makin membenci ayah saya, bahkan di saat ayah saya lemah dan tidak berdaya saat sakit keras komplikasi stroke, jantung dan macam-macam penyakit.

Saya pernah mendiamkan ayah 2 tahun, berhenti bicara karena saya putus asa. Ibu saya sering mengingatkan saya dengan lembut, “mbok hati kamu jangan keras seperti itu, gitu-gitu itu ayah kamu. Ibu tahu kamu keras karena kamu sayang bapak kamu, tapi bukan gitu caranya, kamu harus ngalah ndok

Setelah tujuh tahun ayah saya sakit keras karena stroke dan komplikasi penyakit lainnya, ayah saya benar-benar tidak berdaya, hanya bisa tidur di tempat tidur, di hari-hari terakhirnya pernah masuk ICU sekitar 7 hari.Ibu dan kakak saya dengan sabar menunggu di sampingnya berzikir tiada henti, hingga ayah tersadar dari koma, dan bisa dipindah ke ruang biasa. Hati saya masih keras. Saat dia tidur, saya memperhatikan wajah ayah saya yang terlihat sangat tua, renta, lemah. Ayah yang dulu perkasa, biasa melatih polisi-polisi muda bermain voli, basket, terjun payung, dan sepak bola, sekarang adalah orang yang sangat tergantung pada mesin, dokter dan perawat.

Dalam hati saya menangis, Kebencian telah membuat hati saya demikian keras dan tidak adil. Ayah saya bekerja keras hingga harus terus bekerja setelah pensiun supaya anak-anaknya bisa sekolah hingga universitas. Ayah saya, meskipun saya selalu tidak akur dan membantah omongannya, terutama tentang muslim, selalu tidak pernah  bosan menunjukkan kebanggaannya atas nilai-nilai raport saya ke tamu-tamu di rumah hingga saya malu.

Ayah yang sengaja mengarang ‘kudangan’ (lagu) ke tiap anak-anaknya sesuai dengan karakter anak dan impian dia.

Saya merasa sangat durhaka. Tidak ada paksaan di dalam alquran untuk memeluk islam, dan bahkan nabi Muhammad pun tidak kuasa membolakbalikkan hati pamannya untuk masuk islam. Buat apa saya berdebat dan beragumen Islam indah, islam bagus, islam cinta damai, jika perilaku saya bahkan ke ayah kandung sendiri jauh dari apa yang saya koar-koarkan ke ayah saya? Bagaimana ayah saya bisa tertarik dengan Islam jika perilaku saya mirip orang tidak beragama?

Saya tidak tahu apakah Allah akan memasukkan ayah saya ke surga. Allah yang punya hak menghitung timbangan pahala dan dosa, manusia tidak punya kuasa menghakimi. Saya tidak tahu apakah Allah menerima tobat ayah saya sebelum malaikat mencabut nyawanya. Ayah tobat bukan karena omongan saya, bukan karena debat saya yang canggih menyebut sejarah islam, perilaku Nabi Muhammad, tapi ayah tergerak karena melihat cinta ibu saya yang tulus, yang tidak pernah berubah sikap terus merawat ayah saya dalam keadaan sakit parah sekali pun, dan terus berzikir di samping ayah saya, hingga saat detik-detik terakhir, ayah sempat berucap dengan air mata menggenang di pipinya, ibu saya tak kuasa menahan tangis, ayah saya membelai pipi ibu saya “Fat, aku sayang kamu, ini rumah kamu, jaga anak-anak ya”

Dan saya menyesal belum berbuat baik pada ayah saya.

2014/11/18

Hadiah dari Tuhan

Hadiah Tuhan terkadang dibungkus dgn kertas buruk rupa
Untuk membukanya pun perlu kerja keras.

Bbrp org akan menghiraukan hadiah itu dan berprasangka buruk mengapa Tuhan jahat memberikan kado buruk rupa

bbrp mencoba membuka dgn penuh penasaran tp kmdn berhenti di tengah bungkusan yg belum terbuka dan meninggalkan kado

bbrp org tetap berprasangka baik, terus membuka sampai kado terbuka.

Seorang Susi Pujiastuti dan segelintir orang yang lainnya memilih yg ke3.

Kebanyakan org mungkin akan marah2 ke Tuhan dan berprasangka buruk Tuhan menghadirkan mereka sia-sia, hanya ingin menzalimi.

Tuhan tidak pernah menciptakan ciptaannya sia-sia, apalagi menzalimi.

Bahkan seekor kucing pun hadir ke dunia terkadang berhasil menghibur tuannya yg sedang sedih.

*Selamat membuka kado Tuhan*

2014/10/05

Belitung Timur, “The rising beauty of the rainbow”



Pantai Punai
Pernah mendengar kutipan berikut, “Kekayaan sebuah bangsa adalah manusianya bukan sumber daya alamnya”? Kutipan bijak yang sering diucapkan Pak Anies Baswedan tersebut, nampaknya dipahami dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Jika daerah-daerah lain masih fokus pada eksploitasi kekayaan alamnya dan cenderung pasif menarik wisatawan ke daerahnya, Belitung Timur bisa dikatakan beberapa langkah lebih maju. Apalagi untuk ukuran pemerintahan tingkat Kabupaten, usaha PEMDA Belitung Timur untuk memajukan daerahnya patut diacungi jempol. Ibarat seorang gadis, Belitung Timur adalah perempuan yang sedang belajar bersolek tanpa kehilangan jati diri dan terlihat menor. Belitung Timur tahu pasti potensi yang dimiliki, baik kelebihan dan kekurangannya serta tantangan yang mereka hadapi, dan walaupun ingin mengembangkan pariwisatanya, Bupati Belitung Timur tidak ingin Belitung seperti Bali, pulau yang  mulai didominasi budaya barat yang dibawa wisatawan asing.



di depan replika SD Muhammadiyah Kec. Gantung
Masih ingat film/ novel Laskar Pelangi yang terkenal dan sangat menggugah jutaan orang Indonesia? Masih ingat kerusakan alam yang disebabkan dari penambangan timah di novel yang ditulis dengan apik oleh Andrea Hirata? Pemerintah Daerah Belitung Timur, dr. Basuri Tjahaja Purnama dan timnya menyadari untuk memajukan dan memakmurkan warga Belitung Timur, mereka tidak bisa terus terusan membiarkan penggalian tanah-tanah di sana untuk mendapatkan timah dan kaolin yang kemudian meninggalkan jejak lubang-lubang besar dan setelah beberapa tahun berubah menjadi kolam menyerupai danau kecil. Seperti kutipan bijak di atas, Pak Basuri menyadari untuk membangun dan memajukan daerah Belitung Timur hal pertama yang harus disiapkan dan dibangun adalah manusia Belitung Timur. Pemda Belitung Timur antara lain telah memberikan beasiswa kepada pemuda-pemudi yang cerdas untuk kuliah di PTN supaya mereka siap membangun tanah kelahiran mereka. Selain itu ada banyak rencana pembangunan seperti konservasi lahan bekas tambang, penggunaan tanah untuk kebun kelapa sawit yang diupayakan lebih memakmurkan rakyat dan bukan perusahaan perkebunan. 


Replika SD Muhammadiyah
Di bidang pariwisata, sadar pulau ini menjadi terkenal karena pamor novel “Laskar Pelangi”, PEMDA Belitung Timur menggunakan momentum tersebut dan lebih menjual kekayaan dan kearifan budaya Belitung. Hal ini dapat dilihat dari program wisata yang ditawarkan ke wisatawan yang ingin menghabiskan liburan di Belitung Timur. Setidaknya itu yang saya lihat setelah menikmati Belitung Timur selama 4 hari 3 malam. Tanggal 22 hingga 25 September saya dan 36 peserta dari Jakarta, dan kota-kota di Jawa mendapat kesempatan untuk mengenal Belitung Timur  lebih dekat dan personal. Acara “Tour de Beltim 2014” ini diprakarsai Dinas Pariwisata Belitung Timur yang menunjuk Belanger yang dikomandoi laki-laki muda yang akrab dipanggil Kokoh Hans sebagai panitia pelaksana. Program ini merupakan upaya kreatif PEMDA Belitung Timur untuk mempromosikan pariwisata mereka dengan aktif mengundang blogger, penulis dan wartawan untuk mengenal lebih dekat dan personal Belitung Timur yang diharapkan dapat membantu mempromosikan wisata melalui media sosial. Selama 4 hari 3 malam kami mengikuti program yang cukup padat dan lengkap untuk melihat Belitung Timur dari dekat terutama pariwisatanya ditemani pemandu wisata yang sangat paham sejarah, budaya dan wisata Belitung Timur, Mas Syarif. Berikut adalah kesan saya selama mengikuti program “Tour de Beltim 2014” yang diberi tema “The rising beauty of the rainbow”


Hari Pertama, 22 September 2014

Nasi Simpor


Setelah tiba di Bandara Hanianjoeddin di tengah terik matahari, kami dibawa dengan bis melewati jalan mulus menuju Desa Bangek. Di sini perut lapar kami dimanja oleh nasi simpor, nasi dengan menu ayam ketumbar (dan nanas), ikan cempedik bumbu pedas (seperti teri) dan sayur daun iding-iding yang dibungkus rapi dengan daun Simpor. Di lokasi ini terdapat tiga rumah panggung yang terbuat dari kayu yang diisi pengrajin terindak (topi petani), boneka dan tikar lais. 

Pengrajin Terindak













Bis kembali menekuri jalan mulus menuju Kecamatan Gantung untuk melihat Rumah keluarga Pak Ahok yang di sampingnya terdapat Gallery Batik Simpor Gantung yang menawarkan pelatihan canting batik khas Belitung Timur.



membatik

 




Di sini peserta diajarkan melalui praktek membuat batik dengan motif khas Belitung Timur, seperti daun simpor dan ikan cempedik yang memang hanya ada di Pulau Belitung, terutama Belitung Timur. Anda mungkin kaget kenapa ada batik di Belitung Timur? Batik Simpor Gantung menurut saya adalah upaya kreatif PEMDA Belitung Timur untuk meningkatkan pariwisata mereka dengan menciptakan sesuatu yang menjadi ciri khas Belitung Timur. Terkadang untuk memajukan dan menjual wisata, kita tidak bisa hanya berpangku tangan karena tidak ada kesenian yang khas atau hanya terpaku pada kekayaan dan keindahan alam. Kadang-kadang diperlukan kecerdasan kita untuk membuat daya tarik baru. Untuk menciptakan Batik Simpor pun bukan hal mudah bagi Belitung Timur, karena mereka harus mengirim banyak orang ke Jawa Tengah untuk belajar membatik. Lihatlah Singapura. Secara alam dan budaya, tentu Indonesia lebih “menang” dibandingkan Singapura, tetapi wisata mereka berhasil menyedot banyak wisatawan/ turis dengan banyak membuat daya tarik baru, seperti contohnya Universal Studio.




Kiape ke kabar? Biaselah *belajar bahasa*
Masih di desa Gantung, pembaca setia Laskar Pelangi pastilah tahu desa ini adalah latar belakang lokasi novel dan film Laskar Pelangi. Ya, kami tentunya mengunjungi Museum Kata (Andrea Hirata) yang diwarnai warna-warna indah dan mencolok. Dari sini kami menuju danau untuk belajar  “Bahasa Belitong”. Belajar bahasa di tepian danau bekas galian tambang timah dengan warna semburat jingga langit sore yang romantis ditemani kudapan (bahasa Belitong “jaja”) yang dibungkus daun simpor dan dua guru yang humoris membuat kami mudah menghapal beberapa kata dasar untuk percakapan dengan warga setempat. 





Interior Museum Kata Yang Penuh Warna










pemandangan unik di dekat Danau MTB, Gantung











Kue-kue tradisional



Malamnya peserta dibagi dalam kelompok-kelompok dan tinggal di rumah warga. Pemilik rumah yang saya tempati sepasang orang tua yang anak-anaknya bekerja di pinggiran Jakarta, dengan ramah menerima kami. Setelah mandi dan beramah tamah singkat, kami berangkat ke Gedung Serba Guna untuk makan malam (“Makan Bedulang”) yang dibuka dengan tarian “Gambus Inang-inang". Makan Bedulang adalah makan lesehan ala Belitong Timur, dimana tiap empat orang mengerubungi satu sajian makanan berisi nasi, lauk (gangan laut/ ikan, sate ikan yang mirip otak-otak), sayur iding-iding, sayur pelepah kelapa, sambal dan kue tradisional seperti jukong. 
















Hari Kedua, 23 September 2014


Perut sebenarnya masih kenyang karena ibu pemilik rumah sudah menyajikan kopi susu dan jaja. Tapi kami ditawarkan makan pagi ala Belitung, makan di rumah panggung milik seorang nenek. Menunya cukup unik, yakni berego. Anda mungkin bisa membayangkan kwetiaw yang dipilin rapi dengan kuah sayur ikan dan sambal yang pedas. 


Dari rumah panggung kami sempat melihat dan berfoto di replika Sekolah Muhamadiyah yang dijadikan tempat shooting film “Laskar Pelangi”. Dari Gantung selama sekitar 1 jam kami pindah ke Kecamatan Dendang. Datang ke sini harus pagi sekali, untuk melihat proses pembuatan gula aren yang difermentasi dari air aren dengan kayu mentubar. Gula yang dihasilkan memang beda dengan teksturnya sangat halus dan rasa manisnya pas serta tanpa bahan pengawet. Selesai menikmati manisnya gula aren, kami harus naik truk selama kurang lebih 20 menit menuju perkebunan lada. Dua puluh menit yang terasa menantang, bukan hanya kami harus naik truk di tengah panas teriknya Dendang, tapi juga saat melewati perkebunan kelapa sawit, kami harus pandai melindungi 

Petualangan ke Kebun Lada

diri dan menghindar dari cabikan helai-helai pelepah kepala sawit yang menjuntai. 



Petani lada


Setelah belajar menjadi petani lada, dengan bis, kami berangkat menuju Pantai Punai. Ah pantai, saya jadi teringat cerita almarhum ayah saya yang beberapa tahun lalu, jauh sebelum Belitung terkenal karena film “Laskar Pelangi”, pernah beberapa kali dinas ke Belitung dan beliau dengan gaya sangat ekspresif menceritakan betapa indahnya pantai-pantai di Belitung. Selama perjalanan ke pantai sambil beristirahat mendengarkan cerita Mas Syarif tentang legenda Belitung yang menurut cerita artinya adalah “Bali Sepotong” saya bergumam dalam hati, “setelah sekian belas tahun, akhirnya saya bisa membuktikan cerita ayah tentang Belitung”. 

 



Di pantai Punai kami disambut tarian khas Belitung “Sekapur Sirih”. Kegiatan di lokasi yang nyaman dan tenang ini memang cukup padat. 





Sebelum makan siang, kami diajarkan cara membuat Gangan Ikan Belitung, menu yang pas sekali di Pantai yang panas dengan pemandangan pantai berpasir putih halus, angin sepoi-sepoi merasakan gangan ikan yang pedas bercampur asam manis dari nanas. Selesai makan siang kami diajarkan cara membuat kue basah tradisional Belitung dari bahan gula aren, antara lain, Jukong.
Sambil menikmati angin pantai, seorang penata rias yang  luwes  memperlihatkan kepada peserta Tour tata cara dan susunan pakaian adat Pengantin Belitung. Cantik ya? 


Pantai Punai




Perjalanan selanjutnya adalah menuju Kecamatan Manggar. Kami berhenti makan malam di Restoran Fega sebelum check in ke hotel Oasis. Setelah check in dan mandi, dengan keadaan yang lebih segar, kami siap untuk bergaul ala warga Manggar, yang terkenal sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”.  Malam ini kami menikmati minuman kopi atau teh tarik dengan sajian pisang dan singkong goreng di Warung Kupi Milenium dihibur suara penyanyi perempuan muda berbakat yang berhasil menghidupkan suasana hingga tengah malam. Thanks to Oom Hoho (Nugroho) entrepeneur yang ternyata juga punya bakat menjadi MC yang membuat para peserta cair dan akrab. Oom Hoho ini adalah investor yang akan membuat usaha wisata Campervan untuk Belitung. 
Keriaan di WarKop Milenium













Hari ketiga, 24 September 2014.


Sesuai dengan motonya, “Manggar kota 1001 Warung Kopi”, saat di bis saya bisa melihat begitu banyak warung kopi di sepanjang jalan yang saya lewati di kecamatan ini. Setelah semalam mencoba mengopi di Warkop Milenium, pagi ini kami ingin menjadi orang setempat yang menghabiskan waktu di Warung Kopi “Atet”. Warung kopi di Belitung Timur mengingatkan saya pada romantisme warung kopi Betawi di dekat rumah saya tinggal di Kebalen, Jakarta Selatan, saat saya kecil dulu di tahun 1980an. Tahun itu Indonesia terutama kota-kota besar belum diserang gaya ngopi kaum urban di warung kopi modern seperti St*rbuck dan merek lainnya. Warung kopi di Belitung hanyalah warung sederhana dengan kursi-kursi kayu seadanya, pelayan yang tidak berseragam dan tampil apa adanya, beberapa sajian kombinasi kopi dan teh serta penganan tradisional. Pagi ini  saya yang biasanya tidak suka kopi mencoba kopi susu, kue tradisional dan dua telur ayam kampung setengah matang. Hal yang unik dan menjadi pertanyaan saya adalah, warga Belitung terutama kecamatan Manggar mempunyai tradisi ngobrol sambil menikmati kopi di pagi dan sore/ malam hari, dengan jumlah warung kopi sangat banyak hampir di setiap pinggir jalan, tetapi Belitung tidak punya produk kopi sendiri. Beda dengan misalnya di Pegunungan Tengah Papua, mereka punya “Kopi Amungme” yang terkenal. 




Selesai makan pagi bis membawa kami ke Kantor Dinas Pariwisata Belitung Timur yang terletak di Kompleks Gedung-Gedung Pemerintahan Daerah Belitung Timur. Dinas Pariwisata Belitung Timur cukup kreatif dan inovatif. Ini terlihat dari penataan bagian depan kantor ini dan juga menjadikan sebagian area menjadi museum. Di museum mini ini kita bisa melihat binatang khas Belitung Timur seperti Tarsius (primata paling kecil di dunia, yang mengejutkan saya, merupakan anomali, karena tarsius menurut teori sebaran hewan, seharusnya ditemukan di Indonesia Timur), buaya, burung punai, musang dan ular. 


tarsius






Orang Buyan membuat kapal Kater







Selesai bertandang ke Dinas Pariwisata yang telah menjamu kami dengan baik, kami menuju ke Pantai Serdang. Sama seperti pantai Punai, pantai di sini juga berpasir putih lembut. Di sini kami melihat Orang Buyan (orang dari Pulau Bawean yang migrasi puluhan tahun lalu ke Pulau Belitung) membuat kapal Kater, kapal tradisional dari satu gelondong kayu yang dicat warna warni cerah. 









Setelah mendapat ilmu tentang pembuatan kapal, yang membuat saya yakin nenek moyang bangsa Indonesia dulunya adalah pelaut, kami diajak melihat bekas perumahan pejabat PN Timah di Bukit Samak dan terkagum-kagum dengan pemandangan di seberang rumah dinas Bupati Belitung Timur. Oh untuk urusan penataan kota, orang Belanda memang pintar. Anda yang sudah pernah ke Belanda pasti setuju

 Bis menekuri jalan mulus menuju Bukit Batu, untuk melihat kelenteng Dewi Kwan Im. Kelenteng dengan bangunan beberapa tempat sembahyang ini, dibangun di atas bukit, dan banyak orang keturunan Tionghoa datang ke sini melakukan ritual Ciam Si untuk mengetahui peruntungan mereka. Ciam Si adalah tradisi khas Tionghoa yang digunakan sebagai sarana meramal berdasarkan syair-syair kuno. 


Ritual dimulai dengan berdoa dan menyebut dalam hati keinginan kita. Petugas akan memberikan 2 keping kayu yang dicat merah yang harus dilempar ke lantai. Setelah OK, petugas akan memberikan bambu berisi sumpit-sumpit untuk digoyang hingga jatuh satu sumpit yang telah dinomori. Petugas akan menunjukkan syair kuno berdasarkan nomor pada sumpit dan menerjemahkan arti syair kuno tersebut.


Dari Pantai Bukit Batu, kami berhenti di restoran di Pantai Burung Mandi. Kalau tadi di Pantai Serdang kami melihat bagaimana perahu Kater dibuat, di sini saya bersama beberapa teman  menaiki kapal nelayan tersebut mengitari pantai. Sore sambil menunggu senja, kami menikmati pasir putih halus Pantai Burung Mandi dengan bermain permainan tradisional “Moto Lele” seperti permainan kasti dengan melempar dan menangkap bilah kayu. 









menikmati malam dgn ngobrol remeh temeh di Warkop
Acara hari ini ditutup acara puncak, makan malam dan bincang-bincang dengan Bupati Belitung Timur, yang juga adik Pejabat Gubernur DKI, Ahok. Percakapan berlangsung ramah hingga waktu bergerak cepat ke pukul 10 malam. Pak Basuri dengan ramah menceritakan rencana pembangunan di Belitung Timur. Dibandingkan dengan Pak Ahok, sosok Pak Basuri terlihat lebih ramah dan banyak senyum. Entahlah, mungkin karena Pak Ahok anak pertama hingga beliau terlihat lebih tegas dan kadang-kadang dijuluki wartawan “berani”. Tapi yang jelas keduanya punya kesamaan, cerdas, jujur, profesional dan serius memikirkan kepentingan rakyatnya. Selama 3 hari ini sulit untuk menemukan gembel ataupun gelandangan bahkan di pasar tradisional. Pasarnya pun bersih, pasar di Ciputat bisa jadi sangat buruk dibandingkan pasar di Manggar. Walau Belitung Timur jauh dari Jakarta, anehnya, beda dengan Banten/ Tangerang Selatan, semua jalan mulus dihotmix sehingga perjalanan di Belitung terasa nyaman. Saya juga melihat gaya yang “tidak terlalu pejabat” dalam artian menjaga jarak dengan bawahan atau warganya. Malamnya saya bermimpi seandainya makin banyak pemimpin daerah seperti Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Ridwan Kamil, Ibu Risma, Pak Basuri dan lain-lain, pasti Indonesia akan lebih maju dan makmur. 

Di rumah dinas Bupati Belitung Timur




Hari keempat, 25 September 2014


Tanpa terasa di saat para peserta semakin menikmati kebersamaan dan akrab (oh iya, semalam kami kumpul-kumpul lagi menikmati kopi dan singkong goreng di Warung Kopi “Milenium”) tour ini, sudah tiba di hari terakhir. Pagi ini perjalanan cukup lama sekitar 1 jam ke Kecamatan Kelapa Kampit melihat perkebunan Durian Montong Koh Hasan. Saya memang tidak suka durian, tapi penasaran ingin icip-icip serabi daun suji dan ketan dengan kuah durian montong, dan ternyata iman saya semakin kuat untuk tidak suka durian. 








Datang ke Belitung tidak mencoba Mie Belitung, rasanya kurang lengkap. Pagi ini lidah saya kembali menari riang menikmati campuran rasa sedap dan pedas mie Belitung yang berisi mie, tahu china, udang rebus, tauge, mentimun, kentang rebus, emping dan sambal. Uhm…sedap! Penutup yang indah di akhir "Tour de Beltim 2014"






Liburan 4 hari di Belitung memang kurang untuk bisa benar-benar mengeksplorasi pulau indah ini, karena di Kabupaten Belitung (Belitung sebelah barat, di Pulau Belitung ada 2 kabupaten, Belitung dan Belitung Timur) banyak terdapat pantai indah yang masih perawan. Saya membandingkan Belitung seperti Pulau Langkawi di Malaysia. Belitung tidak kalah dengan Langkawi hanya perlu promosi yang lebih gencar dan lebih baik lagi. Saya ucapkan hormat dan terima kasih kepada segenap jajaran PEMDA Belitung Timur yang telah mengundang kami dan memberikan pengalaman yang sangat menarik tentang budaya, kebiasaan dan kearifan lokal Belitung Timur.

 
Terima kasih juga kepada Jejak Kaki (Eva dan Santos) yang telah mengkoordinasikan peserta sebelum berangkat ke Belitung Timur.