Trip With Sari Musdar

Trip With Sari Musdar
Spring Euro Trip With Sari Musdar

2014/11/23

Cari Info Wisata Jepang & pengen jalan gratis intip Japan Travel --> http://id.japantravel.com

Kabar gembira untuk para traveler. 

Website http://id.japantravel.com



Sudah tahu kan per 1 Desember 2014, dengan memegang paspor elektronik, kita bisa bebas masuk ke Jepang selama 15 hari? Caranya?  Cukup dengan mendaftarkan paspor kita ke Kedutaan Jepang atau Konsulat Jendral Jepang di Indonesia (untuk kota di luar Jakarta). 

Nah sebelum traveler/ backpacker jalan-jalan ke Jepang, coba deh tengok website ini http://id.japantravel.com salah satu dari website Japan Travel yang baru diluncurkan bulan Oktober 2014 dibuat untuk memudahkan para traveler Indonesia yang ingin cari info tentang wisata Jepang per kegiatan atau pun perfektur yang ada di Jepang. 

Oia, teman-teman yang tinggal di Jepang dan yang pernah wisata ke Jepang juga bisa ikutan nulis di situ. 
Foto Jepang koleksi Riana Tjiptadi

Setiap tahunnya JapanTravel bikin acara 'internship' yang terbuka untuk penulis dan fotografer juga videografer. Untuk saat ini Japan Travel buka kesempatan teman-teman yang hobi motret dan bikin video ikut program internship. Bagaimana caranya? Silakan daftar di sini Internship Japan Travel
Tapi sebelumnya, daftar dulu dengan buat akun  di di sini jangan lupa masukkan code referral CC7B8C. 

Nah selamat mencoba ya. 

Kalau ada pertanyaan, silakan kontak saya di email ini.

Enjoy Japan :)

2014/11/22

Kebencian Tidak Akan Pernah Menggetarkan Hati

Almarhum ayah saya, lahir dan besar di keluarga non muslim,yang tentu saja tidak pernah mengajarkan ajaran islam pada ayah saya sejak lahir hingga remaja. Ayah yang merasa tidak akan maju jika tinggal di desanya memutuskan jadi ‘anak nderek’, ikut pada saudara jauh di kota lain di JawaTengah. Karena kebetulan paman jauh yang ditumpanginya ini beragama islam, ayah tahu sedikit- sedikit islam walau tidak mempraktekkannya. Tinggal menumpang dirumah orang lain, tentunya membuat ayah harus bekerja keras, bangun subuh menimba air, menemani buleknya ke pasar, masak dan lain-lain.

Hingga singkat cerita ayah bekerja di Markas Besar Kepolisian RI, pernah menjadi ajudan mantan KAPOLRI paling jujur dan profesional di Indonesia yang pernah ada, Jendral Hoegeng. Ayah bersahabat dengan pakde, kakak ibu saya, yang bekerja sebagai PNS di kantor. Karena sering bertemu dengan ibu, singkat cerita mereka menikah.

Ibu saya lahir dari keluarga yang islamnya cukup taat, banyak eyang-eyangnya Naib, salah satunya Naib Ratiban, sangat disegani di daerah Blora, orang yang bertanggung jawab memakmurkan mesjid dan terkenal sebagai Naib paling ganteng dengan wajah campuran Arab dan tinggi tegap.
Kalau dipikir-pikir latar belakang ibu dan ayah sangat berbeda, bagai langit dan bumi, terutama dari segi pendidikan agama.

Tahun berganti dan kami anak-anaknya lahir. Kami pernah bertetangga dengan keluarga yang sering mengadakan pengajian, tapi anehnya apa yang diajarkan di Islam tidak terlihat dalam kehidupannya, ayah pun sering mengkritik, “Islam cuma bagus teorinya, prakteknya nol! Katanya kebersihan nomor satu, mau sholat pun harus wudhu, tapi kenapa mereka buang sampah sembarangan bahkan di jalan orang lain?”

Kehidupan saat saya kecil sulit untuk digambarkan normal, ibu saya kucing-kucingan untuk mengajarkan kelima anaknya sholat dan memanggil guru ngaji ke rumah. Karena ayah saya sangat membenci orang-orang islam. Ayah saya tipe orang yang teori harus diterapkan dalam hidup sehari-hari, omongan harus bisa dipegang, bukan sekedar tulisan di awang-awang.

Sewaktu saya kuliah di Bandung, saya bertemu dengan teman-teman hijabers yang sangat baik memandu saya lebih kenal Islam, saya diajak ikut pengajian yang lokasinya berpindah-pindah di rumah teman-teman saya. Mereka tidak pernah memandang saya rendah karena keterbelakangan saya tentang Islam, begitu juga kakak-kakak di tempat kos, Titiran 7. Mereka merangkul saya.  Setiap kali saya melihat ayah-ayah teman pengajian saya, saya merasa iri dengan mereka, dalam hati menangis, harusnya ayah saya yang mengajarkan saya Islam, menuntun saya sholat.

Setelah saya bekerja, karena merasa punya uang sendiri, saya mulai pandai membantah dan beragumentasi dengan ayah saya. Sayangnya saya membantah dengan sangat tidak sopan. Tidak sabar dengan perilaku ayah saya yang tidak berubah, saya makin membenci ayah saya, bahkan di saat ayah saya lemah dan tidak berdaya saat sakit keras komplikasi stroke, jantung dan macam-macam penyakit.

Saya pernah mendiamkan ayah 2 tahun, berhenti bicara karena saya putus asa. Ibu saya sering mengingatkan saya dengan lembut, “mbok hati kamu jangan keras seperti itu, gitu-gitu itu ayah kamu. Ibu tahu kamu keras karena kamu sayang bapak kamu, tapi bukan gitu caranya, kamu harus ngalah ndok

Setelah tujuh tahun ayah saya sakit keras karena stroke dan komplikasi penyakit lainnya, ayah saya benar-benar tidak berdaya, hanya bisa tidur di tempat tidur, di hari-hari terakhirnya pernah masuk ICU sekitar 7 hari.Ibu dan kakak saya dengan sabar menunggu di sampingnya berzikir tiada henti, hingga ayah tersadar dari koma, dan bisa dipindah ke ruang biasa. Hati saya masih keras. Saat dia tidur, saya memperhatikan wajah ayah saya yang terlihat sangat tua, renta, lemah. Ayah yang dulu perkasa, biasa melatih polisi-polisi muda bermain voli, basket, terjun payung, dan sepak bola, sekarang adalah orang yang sangat tergantung pada mesin, dokter dan perawat.

Dalam hati saya menangis, Kebencian telah membuat hati saya demikian keras dan tidak adil. Ayah saya bekerja keras hingga harus terus bekerja setelah pensiun supaya anak-anaknya bisa sekolah hingga universitas. Ayah saya, meskipun saya selalu tidak akur dan membantah omongannya, terutama tentang muslim, selalu tidak pernah  bosan menunjukkan kebanggaannya atas nilai-nilai raport saya ke tamu-tamu di rumah hingga saya malu.

Ayah yang sengaja mengarang ‘kudangan’ (lagu) ke tiap anak-anaknya sesuai dengan karakter anak dan impian dia.

Saya merasa sangat durhaka. Tidak ada paksaan di dalam alquran untuk memeluk islam, dan bahkan nabi Muhammad pun tidak kuasa membolakbalikkan hati pamannya untuk masuk islam. Buat apa saya berdebat dan beragumen Islam indah, islam bagus, islam cinta damai, jika perilaku saya bahkan ke ayah kandung sendiri jauh dari apa yang saya koar-koarkan ke ayah saya? Bagaimana ayah saya bisa tertarik dengan Islam jika perilaku saya mirip orang tidak beragama?

Saya tidak tahu apakah Allah akan memasukkan ayah saya ke surga. Allah yang punya hak menghitung timbangan pahala dan dosa, manusia tidak punya kuasa menghakimi. Saya tidak tahu apakah Allah menerima tobat ayah saya sebelum malaikat mencabut nyawanya. Ayah tobat bukan karena omongan saya, bukan karena debat saya yang canggih menyebut sejarah islam, perilaku Nabi Muhammad, tapi ayah tergerak karena melihat cinta ibu saya yang tulus, yang tidak pernah berubah sikap terus merawat ayah saya dalam keadaan sakit parah sekali pun, dan terus berzikir di samping ayah saya, hingga saat detik-detik terakhir, ayah sempat berucap dengan air mata menggenang di pipinya, ibu saya tak kuasa menahan tangis, ayah saya membelai pipi ibu saya “Fat, aku sayang kamu, ini rumah kamu, jaga anak-anak ya”

Dan saya menyesal belum berbuat baik pada ayah saya.

2014/11/18

Hadiah dari Tuhan

Hadiah Tuhan terkadang dibungkus dgn kertas buruk rupa
Untuk membukanya pun perlu kerja keras.

Bbrp org akan menghiraukan hadiah itu dan berprasangka buruk mengapa Tuhan jahat memberikan kado buruk rupa

bbrp mencoba membuka dgn penuh penasaran tp kmdn berhenti di tengah bungkusan yg belum terbuka dan meninggalkan kado

bbrp org tetap berprasangka baik, terus membuka sampai kado terbuka.

Seorang Susi Pujiastuti dan segelintir orang yang lainnya memilih yg ke3.

Kebanyakan org mungkin akan marah2 ke Tuhan dan berprasangka buruk Tuhan menghadirkan mereka sia-sia, hanya ingin menzalimi.

Tuhan tidak pernah menciptakan ciptaannya sia-sia, apalagi menzalimi.

Bahkan seekor kucing pun hadir ke dunia terkadang berhasil menghibur tuannya yg sedang sedih.

*Selamat membuka kado Tuhan*

2014/10/05

Belitung Timur, “The rising beauty of the rainbow”



Pantai Punai
Pernah mendengar kutipan berikut, “Kekayaan sebuah bangsa adalah manusianya bukan sumber daya alamnya”? Kutipan bijak yang sering diucapkan Pak Anies Baswedan tersebut, nampaknya dipahami dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Jika daerah-daerah lain masih fokus pada eksploitasi kekayaan alamnya dan cenderung pasif menarik wisatawan ke daerahnya, Belitung Timur bisa dikatakan beberapa langkah lebih maju. Apalagi untuk ukuran pemerintahan tingkat Kabupaten, usaha PEMDA Belitung Timur untuk memajukan daerahnya patut diacungi jempol. Ibarat seorang gadis, Belitung Timur adalah perempuan yang sedang belajar bersolek tanpa kehilangan jati diri dan terlihat menor. Belitung Timur tahu pasti potensi yang dimiliki, baik kelebihan dan kekurangannya serta tantangan yang mereka hadapi, dan walaupun ingin mengembangkan pariwisatanya, Bupati Belitung Timur tidak ingin Belitung seperti Bali, pulau yang  mulai didominasi budaya barat yang dibawa wisatawan asing.



di depan replika SD Muhammadiyah Kec. Gantung
Masih ingat film/ novel Laskar Pelangi yang terkenal dan sangat menggugah jutaan orang Indonesia? Masih ingat kerusakan alam yang disebabkan dari penambangan timah di novel yang ditulis dengan apik oleh Andrea Hirata? Pemerintah Daerah Belitung Timur, dr. Basuri Tjahaja Purnama dan timnya menyadari untuk memajukan dan memakmurkan warga Belitung Timur, mereka tidak bisa terus terusan membiarkan penggalian tanah-tanah di sana untuk mendapatkan timah dan kaolin yang kemudian meninggalkan jejak lubang-lubang besar dan setelah beberapa tahun berubah menjadi kolam menyerupai danau kecil. Seperti kutipan bijak di atas, Pak Basuri menyadari untuk membangun dan memajukan daerah Belitung Timur hal pertama yang harus disiapkan dan dibangun adalah manusia Belitung Timur. Pemda Belitung Timur antara lain telah memberikan beasiswa kepada pemuda-pemudi yang cerdas untuk kuliah di PTN supaya mereka siap membangun tanah kelahiran mereka. Selain itu ada banyak rencana pembangunan seperti konservasi lahan bekas tambang, penggunaan tanah untuk kebun kelapa sawit yang diupayakan lebih memakmurkan rakyat dan bukan perusahaan perkebunan. 


Replika SD Muhammadiyah
Di bidang pariwisata, sadar pulau ini menjadi terkenal karena pamor novel “Laskar Pelangi”, PEMDA Belitung Timur menggunakan momentum tersebut dan lebih menjual kekayaan dan kearifan budaya Belitung. Hal ini dapat dilihat dari program wisata yang ditawarkan ke wisatawan yang ingin menghabiskan liburan di Belitung Timur. Setidaknya itu yang saya lihat setelah menikmati Belitung Timur selama 4 hari 3 malam. Tanggal 22 hingga 25 September saya dan 36 peserta dari Jakarta, dan kota-kota di Jawa mendapat kesempatan untuk mengenal Belitung Timur  lebih dekat dan personal. Acara “Tour de Beltim 2014” ini diprakarsai Dinas Pariwisata Belitung Timur yang menunjuk Belanger yang dikomandoi laki-laki muda yang akrab dipanggil Kokoh Hans sebagai panitia pelaksana. Program ini merupakan upaya kreatif PEMDA Belitung Timur untuk mempromosikan pariwisata mereka dengan aktif mengundang blogger, penulis dan wartawan untuk mengenal lebih dekat dan personal Belitung Timur yang diharapkan dapat membantu mempromosikan wisata melalui media sosial. Selama 4 hari 3 malam kami mengikuti program yang cukup padat dan lengkap untuk melihat Belitung Timur dari dekat terutama pariwisatanya ditemani pemandu wisata yang sangat paham sejarah, budaya dan wisata Belitung Timur, Mas Syarif. Berikut adalah kesan saya selama mengikuti program “Tour de Beltim 2014” yang diberi tema “The rising beauty of the rainbow”


Hari Pertama, 22 September 2014

Nasi Simpor


Setelah tiba di Bandara Hanianjoeddin di tengah terik matahari, kami dibawa dengan bis melewati jalan mulus menuju Desa Bangek. Di sini perut lapar kami dimanja oleh nasi simpor, nasi dengan menu ayam ketumbar (dan nanas), ikan cempedik bumbu pedas (seperti teri) dan sayur daun iding-iding yang dibungkus rapi dengan daun Simpor. Di lokasi ini terdapat tiga rumah panggung yang terbuat dari kayu yang diisi pengrajin terindak (topi petani), boneka dan tikar lais. 

Pengrajin Terindak













Bis kembali menekuri jalan mulus menuju Kecamatan Gantung untuk melihat Rumah keluarga Pak Ahok yang di sampingnya terdapat Gallery Batik Simpor Gantung yang menawarkan pelatihan canting batik khas Belitung Timur.



membatik

 




Di sini peserta diajarkan melalui praktek membuat batik dengan motif khas Belitung Timur, seperti daun simpor dan ikan cempedik yang memang hanya ada di Pulau Belitung, terutama Belitung Timur. Anda mungkin kaget kenapa ada batik di Belitung Timur? Batik Simpor Gantung menurut saya adalah upaya kreatif PEMDA Belitung Timur untuk meningkatkan pariwisata mereka dengan menciptakan sesuatu yang menjadi ciri khas Belitung Timur. Terkadang untuk memajukan dan menjual wisata, kita tidak bisa hanya berpangku tangan karena tidak ada kesenian yang khas atau hanya terpaku pada kekayaan dan keindahan alam. Kadang-kadang diperlukan kecerdasan kita untuk membuat daya tarik baru. Untuk menciptakan Batik Simpor pun bukan hal mudah bagi Belitung Timur, karena mereka harus mengirim banyak orang ke Jawa Tengah untuk belajar membatik. Lihatlah Singapura. Secara alam dan budaya, tentu Indonesia lebih “menang” dibandingkan Singapura, tetapi wisata mereka berhasil menyedot banyak wisatawan/ turis dengan banyak membuat daya tarik baru, seperti contohnya Universal Studio.




Kiape ke kabar? Biaselah *belajar bahasa*
Masih di desa Gantung, pembaca setia Laskar Pelangi pastilah tahu desa ini adalah latar belakang lokasi novel dan film Laskar Pelangi. Ya, kami tentunya mengunjungi Museum Kata (Andrea Hirata) yang diwarnai warna-warna indah dan mencolok. Dari sini kami menuju danau untuk belajar  “Bahasa Belitong”. Belajar bahasa di tepian danau bekas galian tambang timah dengan warna semburat jingga langit sore yang romantis ditemani kudapan (bahasa Belitong “jaja”) yang dibungkus daun simpor dan dua guru yang humoris membuat kami mudah menghapal beberapa kata dasar untuk percakapan dengan warga setempat. 





Interior Museum Kata Yang Penuh Warna










pemandangan unik di dekat Danau MTB, Gantung











Kue-kue tradisional



Malamnya peserta dibagi dalam kelompok-kelompok dan tinggal di rumah warga. Pemilik rumah yang saya tempati sepasang orang tua yang anak-anaknya bekerja di pinggiran Jakarta, dengan ramah menerima kami. Setelah mandi dan beramah tamah singkat, kami berangkat ke Gedung Serba Guna untuk makan malam (“Makan Bedulang”) yang dibuka dengan tarian “Gambus Inang-inang". Makan Bedulang adalah makan lesehan ala Belitong Timur, dimana tiap empat orang mengerubungi satu sajian makanan berisi nasi, lauk (gangan laut/ ikan, sate ikan yang mirip otak-otak), sayur iding-iding, sayur pelepah kelapa, sambal dan kue tradisional seperti jukong. 
















Hari Kedua, 23 September 2014


Perut sebenarnya masih kenyang karena ibu pemilik rumah sudah menyajikan kopi susu dan jaja. Tapi kami ditawarkan makan pagi ala Belitung, makan di rumah panggung milik seorang nenek. Menunya cukup unik, yakni berego. Anda mungkin bisa membayangkan kwetiaw yang dipilin rapi dengan kuah sayur ikan dan sambal yang pedas. 


Dari rumah panggung kami sempat melihat dan berfoto di replika Sekolah Muhamadiyah yang dijadikan tempat shooting film “Laskar Pelangi”. Dari Gantung selama sekitar 1 jam kami pindah ke Kecamatan Dendang. Datang ke sini harus pagi sekali, untuk melihat proses pembuatan gula aren yang difermentasi dari air aren dengan kayu mentubar. Gula yang dihasilkan memang beda dengan teksturnya sangat halus dan rasa manisnya pas serta tanpa bahan pengawet. Selesai menikmati manisnya gula aren, kami harus naik truk selama kurang lebih 20 menit menuju perkebunan lada. Dua puluh menit yang terasa menantang, bukan hanya kami harus naik truk di tengah panas teriknya Dendang, tapi juga saat melewati perkebunan kelapa sawit, kami harus pandai melindungi 

Petualangan ke Kebun Lada

diri dan menghindar dari cabikan helai-helai pelepah kepala sawit yang menjuntai. 



Petani lada


Setelah belajar menjadi petani lada, dengan bis, kami berangkat menuju Pantai Punai. Ah pantai, saya jadi teringat cerita almarhum ayah saya yang beberapa tahun lalu, jauh sebelum Belitung terkenal karena film “Laskar Pelangi”, pernah beberapa kali dinas ke Belitung dan beliau dengan gaya sangat ekspresif menceritakan betapa indahnya pantai-pantai di Belitung. Selama perjalanan ke pantai sambil beristirahat mendengarkan cerita Mas Syarif tentang legenda Belitung yang menurut cerita artinya adalah “Bali Sepotong” saya bergumam dalam hati, “setelah sekian belas tahun, akhirnya saya bisa membuktikan cerita ayah tentang Belitung”. 

 



Di pantai Punai kami disambut tarian khas Belitung “Sekapur Sirih”. Kegiatan di lokasi yang nyaman dan tenang ini memang cukup padat. 





Sebelum makan siang, kami diajarkan cara membuat Gangan Ikan Belitung, menu yang pas sekali di Pantai yang panas dengan pemandangan pantai berpasir putih halus, angin sepoi-sepoi merasakan gangan ikan yang pedas bercampur asam manis dari nanas. Selesai makan siang kami diajarkan cara membuat kue basah tradisional Belitung dari bahan gula aren, antara lain, Jukong.
Sambil menikmati angin pantai, seorang penata rias yang  luwes  memperlihatkan kepada peserta Tour tata cara dan susunan pakaian adat Pengantin Belitung. Cantik ya? 


Pantai Punai




Perjalanan selanjutnya adalah menuju Kecamatan Manggar. Kami berhenti makan malam di Restoran Fega sebelum check in ke hotel Oasis. Setelah check in dan mandi, dengan keadaan yang lebih segar, kami siap untuk bergaul ala warga Manggar, yang terkenal sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”.  Malam ini kami menikmati minuman kopi atau teh tarik dengan sajian pisang dan singkong goreng di Warung Kupi Milenium dihibur suara penyanyi perempuan muda berbakat yang berhasil menghidupkan suasana hingga tengah malam. Thanks to Oom Hoho (Nugroho) entrepeneur yang ternyata juga punya bakat menjadi MC yang membuat para peserta cair dan akrab. Oom Hoho ini adalah investor yang akan membuat usaha wisata Campervan untuk Belitung. 
Keriaan di WarKop Milenium













Hari ketiga, 24 September 2014.


Sesuai dengan motonya, “Manggar kota 1001 Warung Kopi”, saat di bis saya bisa melihat begitu banyak warung kopi di sepanjang jalan yang saya lewati di kecamatan ini. Setelah semalam mencoba mengopi di Warkop Milenium, pagi ini kami ingin menjadi orang setempat yang menghabiskan waktu di Warung Kopi “Atet”. Warung kopi di Belitung Timur mengingatkan saya pada romantisme warung kopi Betawi di dekat rumah saya tinggal di Kebalen, Jakarta Selatan, saat saya kecil dulu di tahun 1980an. Tahun itu Indonesia terutama kota-kota besar belum diserang gaya ngopi kaum urban di warung kopi modern seperti St*rbuck dan merek lainnya. Warung kopi di Belitung hanyalah warung sederhana dengan kursi-kursi kayu seadanya, pelayan yang tidak berseragam dan tampil apa adanya, beberapa sajian kombinasi kopi dan teh serta penganan tradisional. Pagi ini  saya yang biasanya tidak suka kopi mencoba kopi susu, kue tradisional dan dua telur ayam kampung setengah matang. Hal yang unik dan menjadi pertanyaan saya adalah, warga Belitung terutama kecamatan Manggar mempunyai tradisi ngobrol sambil menikmati kopi di pagi dan sore/ malam hari, dengan jumlah warung kopi sangat banyak hampir di setiap pinggir jalan, tetapi Belitung tidak punya produk kopi sendiri. Beda dengan misalnya di Pegunungan Tengah Papua, mereka punya “Kopi Amungme” yang terkenal. 




Selesai makan pagi bis membawa kami ke Kantor Dinas Pariwisata Belitung Timur yang terletak di Kompleks Gedung-Gedung Pemerintahan Daerah Belitung Timur. Dinas Pariwisata Belitung Timur cukup kreatif dan inovatif. Ini terlihat dari penataan bagian depan kantor ini dan juga menjadikan sebagian area menjadi museum. Di museum mini ini kita bisa melihat binatang khas Belitung Timur seperti Tarsius (primata paling kecil di dunia, yang mengejutkan saya, merupakan anomali, karena tarsius menurut teori sebaran hewan, seharusnya ditemukan di Indonesia Timur), buaya, burung punai, musang dan ular. 


tarsius






Orang Buyan membuat kapal Kater







Selesai bertandang ke Dinas Pariwisata yang telah menjamu kami dengan baik, kami menuju ke Pantai Serdang. Sama seperti pantai Punai, pantai di sini juga berpasir putih lembut. Di sini kami melihat Orang Buyan (orang dari Pulau Bawean yang migrasi puluhan tahun lalu ke Pulau Belitung) membuat kapal Kater, kapal tradisional dari satu gelondong kayu yang dicat warna warni cerah. 









Setelah mendapat ilmu tentang pembuatan kapal, yang membuat saya yakin nenek moyang bangsa Indonesia dulunya adalah pelaut, kami diajak melihat bekas perumahan pejabat PN Timah di Bukit Samak dan terkagum-kagum dengan pemandangan di seberang rumah dinas Bupati Belitung Timur. Oh untuk urusan penataan kota, orang Belanda memang pintar. Anda yang sudah pernah ke Belanda pasti setuju

 Bis menekuri jalan mulus menuju Bukit Batu, untuk melihat kelenteng Dewi Kwan Im. Kelenteng dengan bangunan beberapa tempat sembahyang ini, dibangun di atas bukit, dan banyak orang keturunan Tionghoa datang ke sini melakukan ritual Ciam Si untuk mengetahui peruntungan mereka. Ciam Si adalah tradisi khas Tionghoa yang digunakan sebagai sarana meramal berdasarkan syair-syair kuno. 


Ritual dimulai dengan berdoa dan menyebut dalam hati keinginan kita. Petugas akan memberikan 2 keping kayu yang dicat merah yang harus dilempar ke lantai. Setelah OK, petugas akan memberikan bambu berisi sumpit-sumpit untuk digoyang hingga jatuh satu sumpit yang telah dinomori. Petugas akan menunjukkan syair kuno berdasarkan nomor pada sumpit dan menerjemahkan arti syair kuno tersebut.


Dari Pantai Bukit Batu, kami berhenti di restoran di Pantai Burung Mandi. Kalau tadi di Pantai Serdang kami melihat bagaimana perahu Kater dibuat, di sini saya bersama beberapa teman  menaiki kapal nelayan tersebut mengitari pantai. Sore sambil menunggu senja, kami menikmati pasir putih halus Pantai Burung Mandi dengan bermain permainan tradisional “Moto Lele” seperti permainan kasti dengan melempar dan menangkap bilah kayu. 









menikmati malam dgn ngobrol remeh temeh di Warkop
Acara hari ini ditutup acara puncak, makan malam dan bincang-bincang dengan Bupati Belitung Timur, yang juga adik Pejabat Gubernur DKI, Ahok. Percakapan berlangsung ramah hingga waktu bergerak cepat ke pukul 10 malam. Pak Basuri dengan ramah menceritakan rencana pembangunan di Belitung Timur. Dibandingkan dengan Pak Ahok, sosok Pak Basuri terlihat lebih ramah dan banyak senyum. Entahlah, mungkin karena Pak Ahok anak pertama hingga beliau terlihat lebih tegas dan kadang-kadang dijuluki wartawan “berani”. Tapi yang jelas keduanya punya kesamaan, cerdas, jujur, profesional dan serius memikirkan kepentingan rakyatnya. Selama 3 hari ini sulit untuk menemukan gembel ataupun gelandangan bahkan di pasar tradisional. Pasarnya pun bersih, pasar di Ciputat bisa jadi sangat buruk dibandingkan pasar di Manggar. Walau Belitung Timur jauh dari Jakarta, anehnya, beda dengan Banten/ Tangerang Selatan, semua jalan mulus dihotmix sehingga perjalanan di Belitung terasa nyaman. Saya juga melihat gaya yang “tidak terlalu pejabat” dalam artian menjaga jarak dengan bawahan atau warganya. Malamnya saya bermimpi seandainya makin banyak pemimpin daerah seperti Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Ridwan Kamil, Ibu Risma, Pak Basuri dan lain-lain, pasti Indonesia akan lebih maju dan makmur. 

Di rumah dinas Bupati Belitung Timur




Hari keempat, 25 September 2014


Tanpa terasa di saat para peserta semakin menikmati kebersamaan dan akrab (oh iya, semalam kami kumpul-kumpul lagi menikmati kopi dan singkong goreng di Warung Kopi “Milenium”) tour ini, sudah tiba di hari terakhir. Pagi ini perjalanan cukup lama sekitar 1 jam ke Kecamatan Kelapa Kampit melihat perkebunan Durian Montong Koh Hasan. Saya memang tidak suka durian, tapi penasaran ingin icip-icip serabi daun suji dan ketan dengan kuah durian montong, dan ternyata iman saya semakin kuat untuk tidak suka durian. 








Datang ke Belitung tidak mencoba Mie Belitung, rasanya kurang lengkap. Pagi ini lidah saya kembali menari riang menikmati campuran rasa sedap dan pedas mie Belitung yang berisi mie, tahu china, udang rebus, tauge, mentimun, kentang rebus, emping dan sambal. Uhm…sedap! Penutup yang indah di akhir "Tour de Beltim 2014"






Liburan 4 hari di Belitung memang kurang untuk bisa benar-benar mengeksplorasi pulau indah ini, karena di Kabupaten Belitung (Belitung sebelah barat, di Pulau Belitung ada 2 kabupaten, Belitung dan Belitung Timur) banyak terdapat pantai indah yang masih perawan. Saya membandingkan Belitung seperti Pulau Langkawi di Malaysia. Belitung tidak kalah dengan Langkawi hanya perlu promosi yang lebih gencar dan lebih baik lagi. Saya ucapkan hormat dan terima kasih kepada segenap jajaran PEMDA Belitung Timur yang telah mengundang kami dan memberikan pengalaman yang sangat menarik tentang budaya, kebiasaan dan kearifan lokal Belitung Timur.

 
Terima kasih juga kepada Jejak Kaki (Eva dan Santos) yang telah mengkoordinasikan peserta sebelum berangkat ke Belitung Timur.

2014/09/29

Peperangan paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri. Perjalanan terbaik membuat kita mengenal diri







Obrolan saya dgn slh satu pembicara di acara Kompas Travel Fair kmrn spt ringkasan dari semua perjalanan spiritual yang pernah saya jalani.

Berbicara dengan Bang John, yg dari segi pekerjaan sukses (beliau terakhir bekerja di perusahaan perminyakan dgn posisi tinggi memutuskan keluar krn mengikuti hati nurani stlh perang batin melihat praktek bisnis di dunia perminyakan Indonesia dan memutuskan memulai bisnis sendiri) dan telah berkelana ke negara-negara konflik dengan segudang pengalamannya yang luar biasa, serta foto-foto lanskapnya yang mempesona, menyadarkan saya betapa saya belum menjadi apa-apa dibandingkan Bang John.

Saya jadi geli membayangkan beberapa orang di grup backpacker yang seolah-olah bangga karena sudah "menaklukan" banyak negara dengan menyebut angka dan hobi membully anggota lain yang baru mulai menjelajah.

Geli pula pada seorang perempuan yang saya temui di trip kmrn yang baru menjelajah beberapa negara ASEAN dengan santainya bilang, "Keren tuh Bang John, saya pengen juga jalan-jalan ke Rwanda"

Saya yakin, Tuhan telah "mempersiapkan" Bang John untuk menjelajah ke tempat-tempat konflik, melihat sisi -sisi gelap manusia yang lebih menakutkan dari setan dan binatang, dimana kemanusiaan terjual karena ego dan ketamakan ingin berkuasa. Perjalanan dari Medan, tinggal di dekat Terminal Medan, bergaul dengan militer saat masih kuliah, serta kemarahan yang menimbulkan pertanyaannya akan Tuhan saat orang-orang terkasih diambil dari hidupnya.

Perjalanan Bang John bukanlah perjalanan sok-sokan dengan tekad ingin disebut jagoan/ penakluk, tetapi perjalanan yang dilakukan karena kemarahan jiwanya. Toh jiwa yang berkelana ini akhirnya sadar, Tuhan tidak pernah meninggalkan dia. Tuhan mempunyai misi tertentu untuk dia. Tuhan meminta dia untuk melihat sisi binatang manusia dan mengajak kita yang tinggal di tempat yang aman damai sentosa lebih menghargai hidup.

Eh balik lagi ke tema tulisan tentang ego, saya penasaran pada mereka yang masih merasa sombong. Di trip terakhir saya berusaha memulai percakapan dan berkenalan dengan semua orang. Lucunya ada diantara mereka, 2 org perempuan, yang seolah-olah membangun dinding, seolah-olah dirinya lebih tinggi derajatnya dari saya, jika saya tidak memulai percakapan, saya invisible.

Ah biarlah begitu. Saya belajar, rezeki datang dari segala arah, dari teman-teman yang pernah kita kenal dimana pun. Tidak ada satu pun orang yang tidak berharga, mereka yang datang dalam hidup kita, pastilah punya arti dalam hidup kita, menjadi guru dan bisa jadi dari merelah rezeki/ kebaikan datang

2014/08/01

Menulis itu mudah - Sesi 1

2014/05/17

Pengen tahu info jalan-jalan/ trip ? yuk gabung di fan page kami

Hai hai.. :)

Salam kenal untuk teman-teman yang sudah kirim email ke email saya.
Supaya ngga ketinggalan program trip eropa atau aussie, bisa gabung dengan fan page click4trip
https://www.facebook.com/click4trip

trims
bon voyage

2014/05/16

Boleh sih manggil "mblo" asal kamu selucu Raditya Dika :)

Kecuali kalau kamu Raditya Dika, stand up comedian atau kamu juga masih single boleh sih becanda dgn nyebut "Blo" (dari kata jomblo). Tapi kalau kamu bukan, terutama kamu muslim yg tahu agama, lbh baik ga usah ikut2an menghina walaupun becanda dgn posting candaan ngejek org2 yg belum nikah ga laku-laku. Jangan.

Karena sy belajar, jodoh ga ada kaitannya dgn penampilan fisik, teman-teman sy yg badannya ga langsing dan ga cantik/ ganteng nikah duluan. Memang ada kuasa Tuhan di sini.

Dan kamu tahu? Secantik atau seganteng apa pun laki2/ perempuan single kdg2 merasa ga PD krn status belum menikahnya. Sy sdh bbrp kali jadi tempat curcol teman-teman yg belum menikah. Yg paling parah perempuan S2, cantik, langsing, belum menikah tapi nekat mau menyerahkan segala2nya krn tunangannya bilang itu tanda sayang demi dinikahi cepat, ternyata tunangannya kabur dan perempuan ini merasa kotor dan mau bunuh diri. 


Ada lagi perempuan S2 juga punya jabatan penting, berpikir untuk "menjebak" pacarnya dengan sengaja hamil biar pacarnya menikahi. Ada pula yang terjebak pada pernikahan dengan suami yg hobi KDRT padahal dia sudah tahu sejak masih jadi pacar, suaminya hobi memukul. Banyak ABG perempuan melakukan segalanya yang diminta pacarnya asal ga dapat gelar "jomblo"

Memang cuma di indonesia dan mungkin RRC dan bbrp negara berkembang tekanan sosial ini ada. Katanya kosa kata Jomblo dari bhs China "Jomlo" yg artinya perawan tua. Krn di China orgtua akan pasang iklan di jln jika anak perempuannya belum laku-laku.

Buat perempuan muslim, apalagi berhijab, pikir sekali lagi kalau mau ikut2an becanda khas Indonesia ini yg menghina org ala olga dibilang lucu, kan tahu ajaran agama, panggilah org dgn panggilan yg baik.

Kamu kan ga tahu, apakah ini jalan Allah buat dia? Kamu ga tahu usaha dia selama ini misalnya dia sdh memperbaiki diri sesuai ajaran agama? Atau dia selama ini didekati oleh orang yg beragama lain dan dia tetap berpegang teguh pada agamanya? Kamu ngga tahu cerita dia kenapa dia belum menikah dan rencana Allah pada dia? Kamu kan ngga tahu mungkin dia berusaha menjaga kehormatan dia karena nurut ajaran Ustadz Felix "Udah putusin aja". Kamu juga ga tahu dia ngga mau jadi istri simpanan atau istri kedua suami orang karena dia menghargai perasaan perempuan lain. Kamu ngga tahu perasaan hati terdalam dan jalan hidup orang lain, kecuali kamu Tuhan.

Orang yg ngga pernah ngalamin memang susah utk berempati, itulah kenapa sebenarnya saya punya misi saaat nulis Cinderella in Paris. Selain menghibur dan menguatkan teman-teman yg belum menemukan pasangan hidup supaya tetap berprasangka baik pada Allah sekalipun ditanyal2, diolok2, tetap menikmati hidup dan bermanfaat utk diri sendiri dan org lain.

Dan juga harapan supaya org2 yg merasa jauh beruntung dan juara krn sdh menikah, lbh punya empati.

2014/05/08

Life is about making choice & be responsible of it, including our happiness

Monster creates monster. Parents who raise kids like monster will create lil monster. Boss who manage in evil way will create lil moster who afraid only in front of him and will oppress other.

But God gives us brain and conscience to think what good for us. 


You wanna be victim or be a subject and change the story to be a brighter one

Life is about making choice. We have our own responsibility for our life, for our happiness. Anger means we don't accept what God brings to our life, but we are too lazy to change it and it's easier to blame on other

Make a choice now :)

2014/05/04

Pemenang Foto Selfie dengan Cinderella in Paris

jreng jreng...

Setelah menimbang dengan seksama foto-foto yang masuk di twitter dari tanggal 23 APril - 1 Mei, ini dia pemenang lomba foto selfie dgn Cinderella in Paris

Terima kasih untuk teman-teman Cinderella yang sdh ikutan acara narsis ini ya..

Foto-foto yang masuk keceh-keceh, tapi foto Yunita ini niat banget narsisnya :))
Keep narsis & stay cool :) 


2014/04/21

Tuhan menjawab doa kita dengan jenaka

Tuhan punya selera humor yg cerdas saat menjawab doa-doa manusia, spy manusia lbh bijak.
Seorang perempuan berdoa bisa dpt beasiswa sekolah di perancis. Tuhan mengabulkan, dia dpt beasiswa hingga S3, di kampus bertemu jodoh, menikah, punya anak 3, hingga si perempuan berpikir buat apa sekolah tinggi2 jika hny jadi IRT.

Seorang perempuan indonesia tinggal di luar negeri. Saat di jkt wanita karir yg sukses. 5 thn menikah belum dikasih anak, setiap mlm berdoa dan menangis spy diberi anak. Doanya dikabulkan, Tuhan memberinya tdk hanya 1, tapi 4 anak dlm waktu berdekatan shg dia tdk bisa kembali kerja, menunggu anak terakhir usia 3 thn. Terkadang dia mengeluh, betapa capeknya jadi full time mother dgn 4 krucils di negara org.

Seorang perempuan dari desa berdoa ingin punya suami bule supaya bisa melihat Amerika dan hidup nyaman. Tuhan mengabulkan doanya, sempat merasakan nyamannya jadi istri bule di jakarta, saat suami balik ke negaranya, ternyata hrs hdp di desa dan menjadi ibu RT semuanya dikerjakan sendiri, bbrp bulan kmdn pulang ke negaranya krn tdk betah.


Kmrn diingatkan teman, saat berdoa, yakinkan diri apa yg benar-benar kita butuhkan, bukan kita inginkan. Setiap orang punya kebutuhan berbeda.

Untuk teman-teman yang doanya belum dikabulkan, mungkin Tuhan sedang meminta kita untuk memantaskan diri dengan apa yang kita minta, atau mungkin Tuhan senang dengan cara kita berdoa.

Yakinlah, Tuhan tahu apa yang tersimpan dalam hati dan Tuhan yang menciptakan kita itu, tahu apa yang kita butuhkan.
 
Yakinkan diri, kita siap dgn konsekuensi jika doa2 kita dikabulkan Tuhan.

2014/04/13

Rumah Adalah Dimana Pun - souvenir dari 19 daerah wisata di Indonesia

sumber : http://blog.kutukutubuku.com/category/book-reviews/


Rumah adalah di Mana Pun (#RadMP)

by  @LangkahDewi (19 Pejalan Perempuan)
Penerbit : Grasindo
Penulis : @LangkahDewi
Harga : 59,000.00 50,150.00 (Diskon 15%)
 *Sinopsis :
Para pejalan perempuan berbagi cerita perjalanan.
Bagaimana jika 19 pengelana perempuan berkelana ke 19 tujuan eksotis di Indonesia ? Ada berbagai cerita yang bisa didapat jika kita menjelajah banyak tempat wisata di Indonesia. Beberapa orang
bisa saja pergi ke tempat yang sama tetapi membawa cerita yang berbeda di akhir perjalanan. Ke 19 penjelajah perempuan ini melakukan perjalanan ke Mandalawangi, Tebing Tomini, Wae Rebo (NTT), Bromo, Blue Fire Ijen, Derawan, Mahameru, Bukit Tinggi, Belitung, Larantuka (Flores), Makassar, Sabang (aceh, lombok, baluran, Bali, Jayapura, malang, dan Gua Jepang di Bandung. Teman-teman yang sudah pernah traveling ke tempat-tempat di atas mungkin juga mempunyai cerita yang bisa jadi sama atau berbeda dengan mereka. Penasaran? Silakan baca kumpulan cerita perjalan ke 19 penjelajah perempuan ini. Setiap tempat mempunyai cerita dan dari perjalanan yang kita lakukan selain kita mengenal orang-orang setempat dan lokasi wisata, kita juga makin mengenal diri kita.
Ada cerita persahabatan, cinta yang tumbuh saat bertraveling, kerinduan pada ibu yang mengasihi dengan tulus, kesadaran bahwa cinta yang lama adalah masa lalu saat kita sudah tidak merasakan
cinta yang sama dengan orang yang melakukan perjalan dengan kita.
*Review:
“Cewek2 ini telah merasakan dan menuliskan cinta yg ditemukan saat perjalanan dgn gaya cewek banget, minimal Anda bisa jatuh cinta pada tempat2 yg mereka ceritakan.
“Banyak hal ttg perjalanan yg didapat dari buku ini, bahkan rute dan destinasi cinta pun tersedia.”
@indyrahmawati (TV one)
“Buku yg enak dibaca oleh para penggemar travelling pembaca terasa diajak masuk ke dunia yang diselami penulis.”
*Menurut aku sih…..
Dari judulnya pasti banyak yg nebak kalau buku ini mengisahkan tentang “semua tempat” adalah rumah kita. Nah, coba dihitung ada berapa tempat yg bisa dihitung pakai jari dan masih banyak lagi yg gak bisa dihitung pakai jari? Berarti rumah kita banyak dong? Hahaha bukan gitu maksudnya. Artinya “rumah” disini adalah tempat dimana kita mendapatkan kenyamanan dan keindahan. Jelas, kalau indah pasti membuat kita nyaman dan betah berlama-lama deh. Klik di mata, klik di hati. Tempat dimana suatu perjalanan dimulai dan tak pernah berakhir. Tempat yang mempunyai kisah tersendiri. Itulah rumah kita.
Satu saran, buku ini bukanlah buku panduan tentang bagaimana cara kamu agar bisa traveling hemat, irit, pelit, medit atau traveling tanpa duit. Bukan. Buku ini adalah memoar perjalanan dari beberapa penulis yang gemar traveling. Mereka selalu menyinggahi tempat baru, suasana baru, bertemu dengan orang baru, bahkan mereka semakin mengenal diri mereka masing-masing. Mereka selalu menjalani suatu kisah baru dalam hidup mereka. Dan mereka membagikan pengalaman mereka tersebut dalam buku ini. Intinya, dimanapun tempat itu berada, tempat itu selalu punya kisahnya sendiri. Itulah rumah kita.
Penggambaran latar belakang dalam buku ini entah kenapa selalu menarik dan membuat kita bisa berimajinasi seketika saat membacanya, bahwa tempat yg disinggahi penulis memang seindah yg mereka tulis. Dengan catatan, walaupun kita tidak pernah kesana sekalipun. Selain dari penggambaran latar belakang yg membuat kita jatuh cinta setengah mati (pengen juga kesana), kita juga dibawa mengalir dengan alur cerita yg mudah diikuti. Ditambah lagi kita dibuat menyelam dengan penyajian bumbu-bumbu kisah persahabatan, cinta dan ketulusan.
Secera keseluruhan, wajib deh punya buku ini!
Buat yg udah punya, coba dibaca ulang yuk ^_^ Lalu tulis comment kamu mengenai buku ini.
Dan buat yg belum baca, buruan dibaca dong kalau udah punya bukunya hehehe :P
Eh bentar..  Kamu belum punya buku ini? Hari gini kemana aja?! Buruan beli disini !!