Trip With Sari Musdar

Trip With Sari Musdar
Spring Euro Trip With Sari Musdar

Facebook Badge

2012/12/08

When you think you have the worst life & God ignore you, watch “Life of Pi” movie



Minggu lalu teman saya Noni mengajak saya untuk nonton film “Life of Pi”. Saat itu saya tidak tahu menahu tentang film ini, tapi beberapa kali judul film ini terlintas di lini masa twitter saya. Masih belum ada gambaran tentang film ini.  Mereka hanya sekedar update “gue udah nonton lho film Life of Pi” tapi tanpa komentar. Dipenuhi rasa ingin tahu, akhirnya sampailah saya terjerat dalam kata-kata indah dan filosofis dari novel Yann Martel, “Life of Pi”. Walaupun sampai saat ini saya belum selesai membaca ‘Life of Pi” tapi saya tenggelam dalam pusaran kata-kata dahsyat dan filosofi dari Yann Martel. Maka saat berada di studio, saya bertanya-tanya seperti apakah film ini diterjemahkan oleh sutradaranya Ang Lee dalam bahasa gambar. 

Film dimulai dengan kilas balik latar belakang Piscine Molitor (dinamakan seperti nama kolam renang terkenal di Paris) saat kecil yang hidup di Pondicherry, India (Aha, bahkan film ini menjawab pertanyaan saya 6 tahun lalu saat ada di Paris, mengapa ada "Little India" di Paris X yang berpenduduk orang-orang keturunan India yang lancar berbicara dalam bahasa Perancis!). Di bagian ini kita bisa menertawakan kepolosan Piscine yang sangat tertarik ingin mengenal Tuhan dari 3 agama, Hindu, Katholik dan Islam. Cerita Pi mengingatkan saya kisah Christopher yang mencari Tuhan hingga ia meninggal di usia remaja, cerita menarik yang keluar dari bibir kering Suster di SD Tarakanita.


Pencarian Pi akan Tuhan, yang menerima 3 ajaran agama, Hindu, Katholik dan Islam, sangat kontras dengan fanatisme berlebihan umat beragama yang terkadang menyebabkan nyawa. melayang. Cerita Pi mengingatkan masa kecil saya, saya yang belajar mengenal Tuhan dari beberapa agama, terutama Katholik (sekolah 12 tahun di Sekolah Katholik) dan Islam. Bukankah seharusnya urusan beragama adalah hubungan yang romantis antara kita dan Tuhan yang kita kenal? Hubungan romantis ini, tidak bisa kita gambarkan apalagi kita paksakan ke orang lain untuk memilih Tuhan yang kita kenal dan kita cintai? Hanya saya dan Tuhan saya yang tahu betapa nikmatnya saat saya memuja Dia, saat saya mengucap syukur di dalam hati, saat saya menangis dan mengadu di tengah malam. Saat tiba-tiba jiwa dan mata saya berteriak dalam hati tanpa diperintah otak "Subhanallah" saat melihat keindahan/ keunikan alam di tempat-tempat yang saya kunjungi, terutama Papua.

Hingga ke bagian cerita saat Pi dan keluarga harus berimigrasi ke Kanada dengan kapal laut. Tuhan punya skenario yang menarik dengan caranya yang unik menyelamatkan Pi dari kapal yang karam, karena keingintahuannya yang besar untuk mengenal Tuhan, melalui petir yang ia dengar di luar kamar. Mulai di bagian inilah saya acungkan jempol akan kehebatan Ang Lee dan timnya untuk menggambarkan kebesaran dan kedahsyatan alam di tengah Samudera Pasifik. Ada banyak analogi filosofis dari nukilan gambar-gambar di layar dan ucapan-ucapan Pi menghadapi cobaan hidup yang teramat berat. Dalam hitungan detik, dia harus kehilangan ayah, ibu tercinta, dan kakak laki-lakinya. Di atas kapal sekoci bersama hyena yang buas, zebra yang patah kakinya, kera dan harimau Bengali bernama Richard Parker. Ada kutipan Pi yang indah tentang kehilangan ibunya, “To lose your mother, well, that is like losing the sun above you”..dan mata saya langsung berkaca-kaca ingat ibu saya yang baru saya kenal dengan baik akhir-akhir ini. 

Sungguh, dibagian ini tanpa terasa mata saya berkaca-kaca. Jika selama ini saya merasa hidup saya jalan di tempat, banyak cobaan hidup yang mendera, dari kehilangan ayah, pernah mengalami office bullying, bertemu orang-orang yang seperti hyena, saya merasa kurang bersyukur pada Tuhan. 

Hidup di dunia bukanlah perlombaan apalagi pertandingan, setiap manusia mempunyai jalan cerita yang berbeda. Seperti rumus fisika, untuk mencapai tujuan hidup, setiap manusia mempunyai percepatan kisah hidup yang berbeda. Kita tidak harus sama seperti A yang menikah dengan suami pejabat tinggi, anak-anak sehat,  lahir tanpa cacat dan cantik yang tinggal di rumah mewah. Di suatu masa, jika Tuhan memilih kita untuk mengenal Dia lebih baik, Tuhan yang Maha Penyayang akan membiarkan kita merasakan kepedihan hidup, penderitaan, supaya kita bersimpuh kehadapannya, supaya kita mencari dan mendekatiNya. Karena terkadang, manusia bisa selamat dari ujian hidup yang berupa penderitaan, tetapi gagal dari ujian hidup yang kelihatan enak (kaya raya, jabatan tinggi, wajah rupawan, badan sempurna dll). Hidup seperti permainan, orang yang selamat dan sukses bukan dinilai dari berapa banyak harta yang ditumpuk, tapi sekuat apa dia menjalani skenario yang Tuhan berikan tanpa mengeluh dan tidak berpaling dari Tuhan.

Kalau kita merasa mengapa saat ini hidup seperti berjalan di tempat, sementara orang-orang sudah melesat mencapai tujuan hidup mereka, jika seakan tidak ada jalan keluar dari cobaan hidup , ini, lihatlah Pi yang berada di tengah Samudra Pasifik! Remaja sebatang kara, berbagi sekoci dengan Richard Parker  sang binatang buas di tengah laut luas dan badai. Tuhan tidak senang orang yang merengek dan mudah mengeluh. Tuhan ingin manusia yang mempunyai akal dan iman menjadi lebih kuat dengan cobaan hidup dan dari pengalaman hidupnya yang berat menginspirasi sesamanya dan menolong sesamanya. Inilah kutipan yang ‘jleb’ dari Pi “I had to stop hoping so much that a ship would rescue me. I should not count on outside help. Survival had to start with me. In my experience, a castaway's worst mistake is to hope too much and do too little. Survival starts by paying attention to what is close at hand and immediate. To look out with idle hope is tantamount to dreaming one's life away” Karena bergantung pada makhluk akan mengecewakan. Sebaik-baik tempat bergantung adalah pada Tuhan.

Titik puncak film ini adalah, saat Pi merasa sudah tidak ada jalan keluar, Tuhan mengirim badai dan petir yang maha dahsyat (thanks to Ang Lee's crew for the effects!). Pi seperti merasakan euphoria atas tanda kebesaran Tuhan. "Praise be to Allah, Lord of All Worlds, the Compassionate, the Merciful, Ruler of Judgment Day!" I muttered. To Richard Parker I shouted, "Stop your trembling! This is miracle. This is an outbreak of divinity. This is...this is..." I could not find what it was, this thing so vast and fantastic.   Demikian buncahnya, Pi memaksa Richard Parker untuk melihat petir tersebut walaupun si harimau Bengali ketakutan bersembunyi di balik terpal. Lihatlah, bahkan hewan tahu batas kemampuannya dan tidak mau melanggar hukum alam yang telah ditentukan Tuhan. Hanya manusia yang sanggup sombong akan kebesaran tanda-tanda Tuhan. Padahal otak sangat terbatas, sehingga dalam matematika ada tanda "tak terhingga". 

Pada titik ini, Pi benar-benar putus asa. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada bantuan datang. Tidak ada artinya lagi hidup, “Tuhan, apa yang kau mau dariku??? Kau sudah ambil ayahku, ibuku dan kakakku!!!” Pi tertidur dan berharap kematian menyelamatkannya dari cobaan yang maha berat, terdampar di tengah lautan luas bersama harimau bengali! Jika Pi benar-benar merasa Tuhan meninggalkannya, sebenarnya Tuhan telah menolongnya jauh-jauh hari sebelum dia terombang-ambing di Samudra Pasifik. Tuhan menggerakkan dia untuk pandai berenang :)

Buat saya pecinta kucing, yang juga menarik dari kisah ini, hubungan antara Pi dan si harimau Bengali Richard Parker. Terkadang, kita harus berteman dengan sesuatu yang kita anggap musuh dalam hidup, dalam film ini, Richard Parker adalah alasan Pi untuk tetap bertahan hidup. Hubungan yang sangat menarik dan romantis antara manusia dan hewan. Sungguh, manusia diciptakan sempurna untuk memberi manfaat kepada makhluk disekitarnya dengan akalnya. Hubungan Pi dan si kucing buas Richard Parker membuat saya makin cinta pada kucing-kucing saya.

Jika hidup kita sepertinya tidak berjalan ke arah mana pun sementara orang lain sudah jauh mendahului kita mencapai tujuan hidup standar orang banyak (berkeluarga, anak lahir sehat tanpa penyakit/ cacat, suami/ istri rupawan, rumah dan mobil mewah dll).  Jika doa sepertinya tidak didengar. Jika tidak ada satu pun yang peduli dengan kita. Yakinlah, Tuhan mengamati kita, hingga pada titik tertentu saat kita benar-benar mengerahkan otak, tenaga, mengucapkan doa dalam setiap tarikan nafas tetapi seolah-olah tidak ada titik terang, dia akan mengirim mahkluknya untuk menolong kita mencari jalan keluar. (Tuhan bahkan mengirim harimau bengali untuk Pi). 


Rayakanlah hidup ini, apa pun skenario yang kita terima.  











Nice quotation from Life of Pi Movie

This cute & touchy, relationship between Pi and his Bengal Tiger, Richard Parker ---> Richard Parker has stayed with me. I've never forgotten him. Dare I say I miss him? I do. I miss him. I still see him in my dreams. They are nightmares mostly, but nightmares tinged with love. Such is the strangeness of the human heart 


 All living things contain a measure of madness that moves them in strange, sometimes inexplicable ways. This madness can be saving; it is part and parcel of the ability to adapt. Without it, no species would survive.

 Love is hard to believe, ask any lover. Life is hard to believe, ask any scientist. God is hard to believe, ask any believer. What is your problem with hard to believe?

 It's important in life to conclude things properly. Only then can you let go. Otherwise you are left with words you should have said but never did, and your heart is heavy with remorse.

 Adult Pi Patel: All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.
Santosh Patel: You think tiger is your friend, he is an animal, not a playmate.
Pi Patel: Animals have souls... I have seen it in their eyes.


"You want a story that won't surprise you. That will confirm what you already know. That won't make you see any higher or further or differently. You want a flat story. An immobile story. You want dry, yeastless factuality." 

 "What a terrible thing it is to botch a farewell. ... It's important in life to conclude things properly. Only then can you let go. Otherwise you are left with words you should have said but never did, and your heart is heavy with remorse"



No comments:

Post a Comment

Any comments, share your experience or ask?