A Fun Fearless Female traveler (The Jakarta Post April 22nd, 2012) who likes to share her story on romance traveling novel.
Author of best selling romance traveling novel, "Cinderella in Paris" & some books.
Here, she wanna share her writing & photos (mostly about traveling physically and mentally aka contemplation).
contact : sarimusdarcom@gmail.com
twitter :@realsarimusdar
unless mentioned, all pics are Sari's property
Belitung Timur, “The rising beauty of the rainbow”
Pantai Punai
Pernah
mendengar kutipan berikut, “Kekayaan sebuah bangsa adalah manusianya bukan sumber
daya alamnya”? Kutipan bijak yang sering diucapkan Pak Anies Baswedan tersebut,
nampaknya dipahami dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Jika
daerah-daerah lain masih fokus pada eksploitasi kekayaan alamnya dan cenderung
pasif menarik wisatawan ke daerahnya, Belitung Timur bisa dikatakan beberapa langkah
lebih maju. Apalagi untuk ukuran pemerintahan tingkat Kabupaten, usaha PEMDA
Belitung Timur untuk memajukan daerahnya patut diacungi jempol. Ibarat seorang
gadis, Belitung Timur adalah perempuan yang sedang belajar bersolek tanpa kehilangan jati diri dan terlihat menor. Belitung Timur tahu pasti potensi yang dimiliki, baik kelebihan dan
kekurangannya serta tantangan yang mereka hadapi, dan walaupun ingin mengembangkan pariwisatanya, Bupati Belitung Timur tidak ingin Belitung seperti Bali, pulau yang mulai didominasi budaya barat yang dibawa wisatawan asing.
di depan replika SD Muhammadiyah Kec. Gantung
Masih
ingat film/ novel Laskar Pelangi yang terkenal dan sangat menggugah jutaan
orang Indonesia? Masih ingat kerusakan alam yang disebabkan dari penambangan
timah di novel yang ditulis dengan apik oleh Andrea Hirata? Pemerintah Daerah Belitung
Timur, dr. Basuri Tjahaja Purnama dan timnya menyadari untuk memajukan dan
memakmurkan warga Belitung Timur, mereka tidak bisa terus terusan membiarkan penggalian
tanah-tanah di sana untuk mendapatkan timah dan kaolin yang kemudian meninggalkan
jejak lubang-lubang besar dan setelah beberapa tahun berubah menjadi kolam menyerupai
danau kecil. Seperti kutipan bijak di atas, Pak Basuri menyadari untuk
membangun dan memajukan daerah Belitung Timur hal pertama yang harus disiapkan
dan dibangun adalah manusia Belitung Timur. Pemda Belitung Timur antara lain
telah memberikan beasiswa kepada pemuda-pemudi yang cerdas untuk kuliah di PTN
supaya mereka siap membangun tanah kelahiran mereka. Selain itu ada banyak
rencana pembangunan seperti konservasi lahan bekas tambang, penggunaan tanah
untuk kebun kelapa sawit yang diupayakan lebih memakmurkan rakyat dan bukan
perusahaan perkebunan.
Replika SD Muhammadiyah
Di
bidang pariwisata, sadar pulau ini menjadi terkenal karena pamor novel “Laskar
Pelangi”, PEMDA Belitung Timur menggunakan momentum tersebut dan lebih menjual
kekayaan dan kearifan budaya Belitung. Hal ini dapat dilihat dari program
wisata yang ditawarkan ke wisatawan yang ingin menghabiskan liburan di Belitung
Timur. Setidaknya itu yang saya lihat setelah menikmati Belitung Timur selama 4
hari 3 malam. Tanggal 22 hingga 25 September saya dan 36 peserta dari Jakarta,
dan kota-kota di Jawa mendapat kesempatan untuk mengenal Belitung Timur lebih dekat dan personal. Acara “Tour de
Beltim 2014” ini diprakarsai Dinas Pariwisata Belitung Timur yang menunjuk Belanger
yang dikomandoi laki-laki muda yang akrab dipanggil Kokoh Hans sebagai panitia
pelaksana. Program ini merupakan upaya kreatif PEMDA Belitung Timur untuk
mempromosikan pariwisata mereka dengan aktif mengundang blogger, penulis dan wartawan
untuk mengenal lebih dekat dan personal Belitung Timur yang diharapkan dapat
membantu mempromosikan wisata melalui media sosial. Selama 4 hari 3 malam kami
mengikuti program yang cukup padat dan lengkap untuk melihat Belitung Timur dari dekat
terutama pariwisatanya ditemani pemandu wisata yang sangat paham sejarah,
budaya dan wisata Belitung Timur, Mas Syarif. Berikut adalah kesan saya selama
mengikuti program “Tour de Beltim 2014” yang diberi tema “The rising beauty of
the rainbow”
Hari Pertama, 22 September 2014
Nasi Simpor
Setelah
tiba di Bandara Hanianjoeddin di tengah terik matahari, kami dibawa dengan bis
melewati jalan mulus menuju Desa Bangek. Di sini perut lapar kami dimanja oleh
nasi simpor, nasi dengan menu ayam ketumbar (dan nanas), ikan cempedik bumbu
pedas (seperti teri) dan sayur daun iding-iding yang dibungkus rapi dengan daun Simpor. Di lokasi ini terdapat tiga rumah
panggung yang terbuat dari kayu yang diisi pengrajin terindak (topi petani),
boneka dan tikar lais.
Pengrajin Terindak
Bis
kembali menekuri jalan mulus menuju Kecamatan Gantung untuk melihat Rumah
keluarga Pak Ahok yang di sampingnya terdapat Gallery Batik Simpor Gantung yang menawarkan pelatihan canting
batik khas Belitung Timur.
membatik
Di sini peserta diajarkan melalui praktek membuat
batik dengan motif khas Belitung Timur, seperti daun simpor dan ikan cempedik
yang memang hanya ada di Pulau Belitung, terutama Belitung Timur. Anda mungkin kaget kenapa ada batik di Belitung Timur? Batik Simpor
Gantung menurut saya adalah upaya kreatif PEMDA Belitung Timur untuk meningkatkan pariwisata mereka dengan menciptakan sesuatu yang menjadi ciri khas Belitung Timur. Terkadang untuk memajukan dan menjual wisata,
kita tidak bisa hanya berpangku tangan karena tidak ada kesenian yang khas atau
hanya terpaku pada kekayaan dan keindahan alam. Kadang-kadang diperlukan
kecerdasan kita untuk membuat daya tarik baru. Untuk menciptakan Batik Simpor pun bukan hal mudah bagi Belitung Timur, karena mereka harus mengirim banyak orang ke Jawa Tengah untuk belajar membatik. Lihatlah Singapura. Secara alam
dan budaya, tentu Indonesia lebih “menang” dibandingkan Singapura, tetapi
wisata mereka berhasil menyedot banyak wisatawan/ turis dengan banyak membuat
daya tarik baru, seperti contohnya Universal Studio.
Kiape ke kabar? Biaselah *belajar bahasa*
Masih
di desa Gantung, pembaca setia Laskar Pelangi pastilah tahu desa ini adalah
latar belakang lokasi novel dan film Laskar Pelangi. Ya, kami tentunya
mengunjungi Museum Kata (Andrea Hirata) yang diwarnai warna-warna indah dan
mencolok. Dari sini kami menuju danau untuk belajar “Bahasa Belitong”. Belajar bahasa di tepian
danau bekas galian tambang timah dengan warna semburat jingga langit sore yang romantis
ditemani kudapan (bahasa Belitong “jaja”) yang dibungkus daun simpor dan dua
guru yang humoris membuat kami mudah menghapal beberapa kata dasar untuk
percakapan dengan warga setempat.
Interior Museum Kata Yang Penuh Warna
pemandangan unik di dekat Danau MTB, Gantung
Kue-kue tradisional
Malamnya
peserta dibagi dalam kelompok-kelompok dan tinggal di rumah warga. Pemilik
rumah yang saya tempati sepasang orang tua yang anak-anaknya bekerja di
pinggiran Jakarta, dengan ramah menerima kami. Setelah mandi dan beramah tamah
singkat, kami berangkat ke Gedung Serba Guna untuk makan malam (“Makan Bedulang”)
yang dibuka dengan tarian “Gambus Inang-inang". Makan Bedulang adalah makan
lesehan ala Belitong Timur, dimana tiap empat orang mengerubungi satu sajian
makanan berisi nasi, lauk (gangan laut/ ikan, sate ikan yang mirip otak-otak), sayur iding-iding, sayur pelepah kelapa, sambal dan
kue tradisional seperti jukong.
Hari Kedua, 23 September 2014
Perut
sebenarnya masih kenyang karena ibu pemilik rumah sudah menyajikan kopi susu
dan jaja. Tapi kami ditawarkan makan pagi ala Belitung, makan di rumah panggung
milik seorang nenek. Menunya cukup unik, yakni berego. Anda mungkin bisa membayangkan kwetiaw
yang dipilin rapi dengan kuah sayur ikan dan sambal yang pedas.
Dari
rumah panggung kami sempat melihat dan berfoto di replika Sekolah Muhamadiyah
yang dijadikan tempat shooting film “Laskar Pelangi”. Dari Gantung selama
sekitar 1 jam kami pindah ke Kecamatan Dendang. Datang ke sini harus pagi
sekali, untuk melihat proses pembuatan gula aren yang difermentasi dari air aren dengan kayu mentubar. Gula yang dihasilkan memang
beda dengan teksturnya sangat
halus dan rasa manisnya pas serta tanpa bahan pengawet. Selesai menikmati manisnya gula aren, kami harus naik
truk selama kurang lebih 20 menit menuju perkebunan lada. Dua puluh menit yang
terasa menantang, bukan hanya kami harus naik truk di tengah panas teriknya
Dendang, tapi juga saat melewati perkebunan kelapa sawit, kami harus pandai
melindungi
Petualangan ke Kebun Lada
diri dan menghindar dari cabikan helai-helai pelepah kepala sawit
yang menjuntai.
Petani lada
Setelah
belajar menjadi petani lada, dengan bis, kami berangkat menuju Pantai Punai. Ah
pantai, saya jadi teringat cerita almarhum ayah saya yang beberapa tahun lalu,
jauh sebelum Belitung terkenal karena film “Laskar Pelangi”, pernah beberapa
kali dinas ke Belitung dan beliau dengan gaya sangat ekspresif menceritakan
betapa indahnya pantai-pantai di Belitung. Selama perjalanan ke pantai sambil
beristirahat mendengarkan cerita Mas Syarif tentang legenda Belitung yang
menurut cerita artinya adalah “Bali Sepotong” saya bergumam dalam hati, “setelah
sekian belas tahun, akhirnya saya bisa membuktikan cerita ayah tentang Belitung”.
Di
pantai Punai kami disambut tarian khas Belitung “Sekapur Sirih”. Kegiatan di
lokasi yang nyaman dan tenang ini memang cukup padat.
Sebelum makan siang, kami
diajarkan cara membuat Gangan Ikan Belitung, menu yang pas sekali di Pantai
yang panas dengan pemandangan pantai berpasir putih halus, angin sepoi-sepoi
merasakan gangan ikan yang pedas bercampur asam manis dari nanas. Selesai makan
siang kami diajarkan cara membuat kue basah tradisional Belitung dari bahan gula
aren, antara lain, Jukong.
Sambil menikmati angin pantai, seorang penata rias yang luwes memperlihatkan kepada peserta Tour tata cara dan susunan pakaian adat Pengantin Belitung. Cantik ya?
Pantai Punai
Perjalanan
selanjutnya adalah menuju Kecamatan Manggar. Kami berhenti makan malam di Restoran Fega
sebelum check in ke hotel Oasis. Setelah check in dan mandi, dengan keadaan
yang lebih segar, kami siap untuk bergaul ala warga Manggar, yang terkenal
sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”. Malam ini kami menikmati minuman kopi atau teh tarik dengan sajian pisang dan
singkong goreng di Warung Kupi Milenium dihibur suara penyanyi perempuan muda
berbakat yang berhasil menghidupkan suasana hingga tengah malam. Thanks to Oom Hoho (Nugroho) entrepeneur yang ternyata juga punya bakat menjadi MC yang membuat para peserta cair dan akrab. Oom Hoho ini adalah investor yang akan membuat usaha wisata Campervan untuk Belitung.
Keriaan di WarKop Milenium
Hari ketiga, 24 September 2014.
Sesuai
dengan motonya, “Manggar kota 1001 Warung Kopi”, saat di bis saya bisa melihat
begitu banyak warung kopi di sepanjang jalan yang saya lewati di kecamatan ini. Setelah semalam mencoba mengopi di
Warkop Milenium, pagi ini kami ingin menjadi orang setempat yang menghabiskan
waktu di Warung Kopi “Atet”. Warung kopi di Belitung Timur mengingatkan saya
pada romantisme warung kopi Betawi di dekat rumah saya tinggal di Kebalen, Jakarta
Selatan, saat saya kecil dulu di tahun 1980an. Tahun itu Indonesia terutama
kota-kota besar belum diserang gaya ngopi kaum urban di warung kopi modern seperti St*rbuck dan merek
lainnya. Warung kopi di Belitung hanyalah warung sederhana dengan kursi-kursi
kayu seadanya, pelayan yang tidak berseragam dan tampil apa adanya, beberapa sajian kombinasi kopi
dan teh serta penganan tradisional. Pagi ini saya yang biasanya tidak suka kopi mencoba
kopi susu, kue tradisional dan dua telur ayam kampung setengah matang. Hal yang
unik dan menjadi pertanyaan saya adalah, warga Belitung terutama kecamatan
Manggar mempunyai tradisi ngobrol sambil menikmati kopi di pagi dan sore/ malam
hari, dengan jumlah warung kopi sangat banyak hampir di setiap pinggir jalan, tetapi Belitung tidak punya produk kopi sendiri. Beda dengan misalnya di
Pegunungan Tengah Papua, mereka punya “Kopi Amungme” yang terkenal.
Selesai
makan pagi bis membawa kami ke Kantor Dinas Pariwisata Belitung Timur yang
terletak di Kompleks Gedung-Gedung Pemerintahan Daerah Belitung Timur. Dinas
Pariwisata Belitung Timur cukup kreatif dan inovatif. Ini terlihat dari
penataan bagian depan kantor ini dan juga menjadikan sebagian area menjadi
museum. Di museum mini ini kita bisa melihat binatang khas Belitung Timur seperti Tarsius (primata paling kecil di dunia, yang mengejutkan saya, merupakan anomali, karena tarsius menurut teori sebaran hewan, seharusnya ditemukan di Indonesia Timur), buaya, burungpunai, musang dan ular.
tarsius
Orang Buyan membuat kapal Kater
Selesai bertandang ke Dinas Pariwisata yang telah
menjamu kami dengan baik, kami menuju ke Pantai Serdang. Sama seperti pantai
Punai, pantai di sini juga berpasir putih lembut. Di sini kami melihat Orang
Buyan (orang dari Pulau Bawean yang migrasi puluhan tahun lalu ke Pulau
Belitung) membuat kapal Kater, kapal tradisional dari satu gelondong kayu yang
dicat warna warni cerah.
Setelah mendapat ilmu tentang pembuatan kapal, yang
membuat saya yakin nenek moyang bangsa Indonesia dulunya adalah pelaut, kami
diajak melihat bekas perumahan pejabat PN Timah di Bukit Samak dan
terkagum-kagum dengan pemandangan di seberang rumah dinas Bupati Belitung
Timur. Oh untuk urusan penataan kota, orang Belanda memang pintar. Anda yang sudah pernah ke Belanda pasti setuju.
Bis menekuri
jalan mulus menuju Bukit Batu, untuk melihat kelenteng Dewi Kwan Im. Kelenteng
dengan bangunan beberapa tempat sembahyang ini, dibangun di atas bukit, dan banyak
orang keturunan Tionghoa datang ke sini melakukan ritual Ciam Si untuk mengetahui
peruntungan mereka. Ciam Si adalah tradisi khas Tionghoa yang digunakan sebagai
sarana meramal berdasarkan syair-syair kuno.
Ritual dimulai dengan berdoa dan
menyebut dalam hati keinginan kita. Petugas akan memberikan 2 keping kayu yang
dicat merah yang harus dilempar ke lantai. Setelah OK, petugas akan memberikan bambu
berisi sumpit-sumpit untuk digoyang hingga jatuh satu sumpit yang telah
dinomori. Petugas akan menunjukkan syair kuno berdasarkan nomor pada sumpit dan
menerjemahkan arti syair kuno tersebut.
Dari
Pantai Bukit Batu, kami berhenti di restoran di Pantai Burung Mandi. Kalau tadi
di Pantai Serdang kami melihat bagaimana perahu Kater dibuat, di sini saya
bersama beberapa teman menaiki kapal nelayan tersebut mengitari pantai.
Sore sambil menunggu senja, kami menikmati pasir putih halus Pantai Burung
Mandi dengan bermain permainan tradisional “Moto Lele” seperti permainan kasti
dengan melempar dan menangkap bilah kayu.
menikmati malam dgn ngobrol remeh temeh di Warkop
Acara hari ini ditutup acara puncak, makan malam dan
bincang-bincang dengan Bupati Belitung Timur, yang juga adik Pejabat Gubernur
DKI, Ahok. Percakapan berlangsung ramah hingga waktu bergerak cepat ke pukul 10
malam. Pak Basuri dengan ramah menceritakan rencana pembangunan di Belitung
Timur. Dibandingkan dengan Pak Ahok, sosok Pak Basuri terlihat lebih ramah dan
banyak senyum. Entahlah, mungkin karena Pak Ahok anak pertama hingga beliau
terlihat lebih tegas dan kadang-kadang dijuluki wartawan “berani”. Tapi yang
jelas keduanya punya kesamaan, cerdas, jujur, profesional dan serius memikirkan
kepentingan rakyatnya. Selama 3 hari ini sulit untuk menemukan gembel ataupun gelandangan bahkan di pasar tradisional. Pasarnya pun bersih, pasar di Ciputat bisa jadi sangat buruk dibandingkan pasar di Manggar. Walau Belitung Timur jauh dari Jakarta, anehnya, beda dengan Banten/ Tangerang Selatan, semua jalan mulus dihotmix sehingga perjalanan di Belitung terasa nyaman. Saya juga melihat gaya yang “tidak terlalu pejabat” dalam artian
menjaga jarak dengan bawahan atau warganya. Malamnya saya bermimpi seandainya
makin banyak pemimpin daerah seperti Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Ridwan Kamil,
Ibu Risma, Pak Basuri dan lain-lain, pasti Indonesia akan lebih maju dan makmur.
Di rumah dinas Bupati Belitung Timur
Hari keempat, 25
September 2014
Tanpa terasa di saat para peserta semakin menikmati
kebersamaan dan akrab (oh iya, semalam kami kumpul-kumpul lagi menikmati kopi
dan singkong goreng di Warung Kopi “Milenium”) tour ini, sudah tiba di hari
terakhir. Pagi ini perjalanan cukup lama sekitar 1 jam ke Kecamatan Kelapa
Kampit melihat perkebunan Durian Montong Koh Hasan. Saya memang tidak suka
durian, tapi penasaran ingin icip-icip serabi daun suji dan ketan dengan kuah
durian montong, dan ternyata iman saya semakin kuat untuk tidak suka durian.
Datang ke Belitung tidak mencoba Mie Belitung, rasanya
kurang lengkap. Pagi ini lidah saya kembali menari riang menikmati campuran rasa
sedap dan pedas mie Belitung yang berisi mie, tahu china, udang rebus, tauge,
mentimun, kentang rebus, emping dan sambal. Uhm…sedap! Penutup yang indah di akhir "Tour de Beltim 2014"
Liburan 4 hari di Belitung memang kurang untuk bisa
benar-benar mengeksplorasi pulau indah ini, karena di Kabupaten Belitung (Belitung sebelah barat, di Pulau Belitung ada 2 kabupaten, Belitung dan Belitung Timur) banyak
terdapat pantai indah yang masih perawan. Saya membandingkan Belitung seperti
Pulau Langkawi di Malaysia. Belitung tidak kalah dengan Langkawi hanya perlu
promosi yang lebih gencar dan lebih baik lagi. Saya ucapkan hormat dan terima
kasih kepada segenap jajaran PEMDA Belitung Timur yang telah mengundang kami dan
memberikan pengalaman yang sangat menarik tentang budaya, kebiasaan dan kearifan lokal Belitung Timur.
Terima kasih juga kepada Jejak Kaki (Eva dan Santos) yang telah mengkoordinasikan peserta sebelum berangkat ke Belitung Timur.
No comments:
Post a Comment
Any comments, share your experience or ask?