Trip With Sari Musdar

Trip With Sari Musdar
Spring Euro Trip With Sari Musdar

Facebook Badge

2011/07/02

FRENEMY – SERIGALA BERGINCU! -Bagian ke2

Aku tiba di Stasiun Luxembourg Central pukul 21.30. Rintik-rintik hujan sepertinya memang menjadi ritual alam yang menyambut kedatangan kami di setiap negara yang kami singgahi, seperti malam ini. Aku dan Vany bergegas ke terminal bis di dekat stasiun.


“Hm, harusnya sudah masuk musim panas sudah ngga dingin kayak gini ya Ras?" Vany menggerutu sambil memakai jaket yang tadi diikatkan ke pinggangnya.

“Van ke halte bis no 18, bener ngga itu?” Aku menunjuk salah satu shelter di terminal bis yang lebih kecil dari terminal Lebak Bulus ini.

Sejenak kemudian aku dan Vany berlindung di bawah Shelther bis, menanti bis yang akan membawa kami ke Youth Hostel terdekat, “Auberge de Jeunesse” di Jalan le Fort Olizy, masih dalam kawasan Luxemburg City.

Di sebelah kanan terminal terdapat gedung-gedung perkantoran, bank dan satu supermarket kecil. Di salah satu gedung –gedung tadi terdapat papan yang menjelaskan mengapa aku dan Vany menggigil hingga terasa dingin sampai ke tulang. Tujuh derajat Celcius! Cukup dingin untuk kami warga Jakarta yang biasa diterpa suhu terdingin 24 derajat dari AC. Hanya ada aku, Vany, dan satu gadis bule berambut pirang mengenakan jas panjang. Kami berkenalan sebentar dengan Denisa, pelajar asal Slovakia yang memulai backpackingnya dari Jerman.

Untunglah sepuluh menit kemudian bis kami datang. Auberge de jeunesse hanya berjarak kurang sepuluh menit dari terminal bis di pusat kota, tetapi setelah itu kami bertiga harus menapaki jalan setapak dari batu yang berundak-undak ke bawah dan kemudian naik ke atas bukit menuju hostel. Bangunan modern bertema minimalis ini cukup kontras dengan alam sekitarnya kawasan perbukitan yang dihiasi bangunan rumah tua dan jembatan besar yang dibangun ratusan tahun silam.

Tidak sulit untuk mengklarifikasikan negara mini ini sebagai negara kaya di Eropa. Dari penginapan ini saja yang tarif menginapnya 20 Euro per malam, aku dapat menilainya. Fasilitas hostel serba modern seperti antara lain ruang rekreasi terdapat TV layar lebar dan ruang internet dengan dua set sofa beraksen minimalis pula. Lalu ada ruang perputakaan dan lounge, ruang laundry dan breakfast yang semuanya jauh lebih luas daripada hostel-hostel lainnya yang pernah aku kunjungi. Untuk naik ke tiap lantai ada 2 lift. Pintu tiap kamar dan pintu lift mempunyai sistem keamanan khusus seperti hotel berbintang lima di Jakarta. Ruang kamar mandi yang interiornya minimalis dengan pintu-pintu tiap kamar mandi dari alumunium.

Sarapan pagi berupa sajian Buffet yang lebih lengkap seperti yang ada di hotel bintang lima di Jakarta dan jumahnya pun berlimpah dibandingkan yang disajikan di hostel lainnya. Menu sarapan pagi di sini hampir sama dengan menu di hotel Avenue yang tarifnya 80 euro per malam. Kupuaskan untuk memperbaiki gizi di saat sarapan pagi ini dan tanpa malu-malu seperti penghuni lainnya, aku menyiapkan bekal yang cukup banyak dan memasukkannya ke ransel merahku. Roti burger dan dua lembar daging, sosis, keju, croissant, jeruk dan apel, satu botol jus orange dan satu botol susu memenuhi tas ransel merahku.

“Lumayan Van, untuk bekal makan siang”

Sebelahku, Rafael, lelaki asal Portugis yang sudah 2 hari menginap di sini menyela, “It’s OK, mereka biasanya membuang sisa makanan yang tidak diambil”

“Hm, bener banget ya Ras, daripada makanannya mubazir!”

Satu hal lagi yang menunjukkan negara mini ini sangat kaya, selain banyak bank di sepanjang jalan Luxembourg city, tidak ada pajak untuk barang-barang yang kita beli di toko atau mall. Harga di sini cenderung lebih murah dibandingkan harga barang di negara lain. Aku kalap membeli coklat di supermarket di sebelah stasiun. Dari supermarket kami ingin melihat kota tua Grund. Sialnya aku salah naik bis dan tersesat di suatu tempat di ujung pemberhentian bis ini. Sambil menunggu bis berangkat kembali ke kota, aku mampir ke toilet umum. Lagi-lagi seperti Kabayan, toilet ini membuat aku terkagum-kagum pada negara mungil ini. Selain bersih, toilet ini wangi, dan berinterior futuristik- minimalis, serba aluminium. Tanpa malu-malu aku berfoto di dalam toilet.

"Kalau di Jakarta, pasti sudah dipreteli maling. Lihat saja rel kereta banyak yang dicuri" komentarku saat keluar dari toilet futuristik.

Sari Musdar- Cinderella in Paris

No comments:

Post a Comment

Any comments, share your experience or ask?